Cerita 37 : Ternyata Maut Begitu
Dekat
Sekitar sebulan yang lalu, saya
hampir saja mengalami kecelakaan tertabrak kendaraan bermotor saat motor yang saya
tunggangi hendak berbelok ke jalan menuju rumah. Uniknya, kejadian itu terjadi dua kali,
di jam dan hari yang sama. Takut? Yaa, kalau ditanya takut saya pasti takut pada saat itu. Sangat takut malah.
Usai lolos dari kecelakaan itu, yang
saya pikirkan hanya satu pada saat itu. Pasti ada hikmah di sebalik setiap kejadian. Apalagi setelah menyadari bahwa sudah dua kali saya mengalami kejadian
hampir tertabrak tersebut, di jam dan hari yang sama pula. Masya Allah... Saya jadi merenung, inikah teguran Allah ta'ala kepada saya untuk senantiasa berhati-hati dalam mengendarai motor atau sebagai pengingat bahwa maut itu sangat dekat, teramat dekat bagi setiap makhluk-Nya yang bernapas?
Bukan
itu saja, kemarin saya juga nyaris mengalami kecelakaan tunggal lantaran gas motor. Gas motor yang biasa membawa saya ke mana saja tidak lagi sebersahabat seperti hari hari biasanya. Tidak bisa dihentikan sehingga jadi kehilangan kontrol dan sulit dikendalikan. Saya seolah menunggangi seekor banteng yang tiba-tiba gusar karena melihat kain berwarna merah. Panik? Pasti! Beruntung saya masih bisa mengontrol diri dan otak saya sesegera mungkin mengeluarkan perintah kepada kedua tangan saya untuk membanting kedua stang sepeda motor ke arah kiri. Akibatnya, saya beserta motor terjatuh dan kaki saya lecet. Namun, syukurnya saya dan sepeda motor saya tidak jadi menghambur ke dalam parit yang kedalamannya tidak seberapa namun di kelilingi kawat-kawat berduri, terbayang seandainya saya tidak menghentikan motor dengan cara membanting ke salah satu arah.
Kejadian yang cukup menyeramkan namun tidak membuat saya trauma.
Tetapi hari ini, saya kembali diingatkan pada kematian dengan kejadian yang hampir sama. Motor saya kembali tidak bersahabat padahal baru saja diservis. Lagi-lagi soal kontrol gas. Ajaib, motor bisa berjalan sendiri tanpa saya sentuh handle gasnya. Beruntung, ketidaknormalan itu saya sadari sebelum perjalanan saya begitu jauh dari rumah. Sehingga saya bisa menukar berperjalanan dengan motor yang lain. Sebab saya khawatir kalau motor tersebut akan berulah di pertengahan perjalanan dan membuat saya celaka.
Subhanallah... Lagi, saya diingatkan kalau maut itu begitu dekat bila kita mampu menyadari tanda-tanda yang Allah Ta'ala berikan dari sekeliling kita. Saya jadi takut seandainya maut datang sedangkan saya dalam keadaan bermaksiat. Belum sempat bertaubat. Dari peringatan demi peringatan yang Allah Ta'ala berikan itulah saya berpikir dan selalu berpikir untuk menjadi muslimah yang baik agar saat saya dipanggil saya dipanggil dalam keadaan yang khusnul khotimah, bukan sebaliknya.
Dari kejadian-kejadian itu, saya sadar betapa
maut selalu mengintai di manapun saya berada. Entah dengan cara apa dan
di mana. Semenjak kejadian-kejadian itu, hati saya selalu berwaspada
dan berupaya terus untuk mengingatkan diri bahwa ada maut yang begitu
dekat dengan setiap makhluk-Nya yang hidup. Tidak terkecuali diri saya.
Ya, Allah...
Mudah-mudahan Engkau lindungi kami dari segala marabahaya, bila hendak Engkau ambil nyawa di dalam raga ini, kami mohon ambillah dengan cara yang baik, dalam keadaan yang mengingat-Mu serta menempatkan kami pada sebaik-baiknya tempat, Aamiin.....
Komentar
Posting Komentar