Cerita 30 : Sekali Pengeluh Tetap
Pengeluh
“Sungguh
menakjubkan setiap urusan orang yang beriman. Sungguh seluruh urusannya baik.
Dan demikian itu tidak dapat dimiliki kecuali oleh orang yang beriman.
Bila ia mendapatkan
kebaikan, ia bersyukur, maka urusan itu baik baginya.
Bila
ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka urusan itu baik baginya.”
(Muslim)
Berikut ciri manusia berjiwa optimis, dalam keadaan apapun, seberat apapun urusan tetap saja baik menurut dia.
Bagi mereka yang senang
mengeluh, dalam keadaan apapun pasti mengeluh. Diberi kelebihan rejeki, dia
mengeluh. Kekurangan rejeki pun ia tetap mengeluh.
Sungguh
amat berbeda dengan yang saat dilanda kesusahan ia tetap tegar menggenggam
syukur dan sabar. Dua senjata yang menjadi tameng bagi dirinya dalam menghadapi
cobaan hidup, baik berupa kesenangan atau kesukaran. Kedua-duanya bernilai sama
di mata mukmin yang senantiasa memelihara iman di dadanya.
Maka,
dari sini jelaslah, bahwa bukan keadaan yang layak kita keluhkan. Tetapi diri
kitalah yang kita latih untuk menjadi jiwa yang selalu bersyukur dan sabar.
Karena sekali kita menjadikan diri kita pengeluh, sampai kapanpun diri kita tetap akan jadi pengeluh. Kecuali bagi mereka yang beriman, dalam kondisi apapun, mengeluh bukanlah pilihan. Tetapi, menilik hikmah yang terkandung setiap ujian Allah, SWT di setiap waktu, itu lebih baik ketimbang sekadar berkeluh-kesah. Apatah lagi bila dalam keadaan berkelebihan. Naudzubillah... Mudah-mudahan kita terjauh dari sifat yang kufur nikmat.
Komentar
Posting Komentar