Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Buku Harian

Banyak Membaca Banyak Menulis (Status Medsos?)

Cerita 102 : Banyak Membaca Banyak Menulis Teko hanya akan mengeluarkan isi teko lalu kita menuangkannya ke dalam gelas. Jika teko itu kosong, atau belum diisi maka tidak ada yang bisa kita tuangkan. Begitu juga, apa yang kita isi ke dalam teko, itulah yang bisa kita tuang lalu kita nikmati. Benar begitu kan? Yaaap. Apalagi zaman kini makin mudah. Apa saja bisa kita nikmati cukup dengan mengetikkan jari ke "papan ajaib" Cukup daftar akun media sosial (medsos) apapun sudah bisa kita tuangkan apapun yang sudah kita teguk. Bisa itu artikel yang baru saja lewat di beranda Facebook. Bisa itu berita yang baru saja kita tonton di televisi Bisa juga kejadian yang baru di alami di alam nyata. Hmm, semakin mudah ya. Kemudahan yang seharusnya semakin memudahkan kita untuk melakukan hal yang baik-baik. Bukan sebaliknya. Maka dari itu, untuk menuangkan hal yang baik banyak-banyaklah membaca yang baik-baik juga ya, temans. Salam positif!

Cerita 101 : Oh, Manusia

Gak munafik ya. Kita semua hidup hanya sedikit yang memandang soal hati. Selebihnya memandang kepada harta, tahta dan jabatan. Gak percaya? Coba deh, kamu beli satu barang paling mahal, paling hits, yang orang lain sangat idam-idamkan. Lalu pamer. Iya, pamer. Sedikit yang menganggap kamu pamer, selebihnya akan langsung komentar, bahkan memuji-muji. Dan hanya 5-10% yang menghinamu karena mereka iri. Begitulah hidup. Hidup di kalangan manusia yang menjunjung tinggi harta di atas segala-galanya. Bagi mereka kaya itu keren. Karena kaya itu bisa diutangi :D Miskin? Sederhana? Apa yang bisa mereka banggakan dari teman yang gak punya apa-apa dan hidup serba sederhana? Hmmm Tapi yang perlu digarisbawahi dan paling penting kamu cerna adalah... Di kalangan mana kamu hidup? Karena akan tetap ada kok kalangan yang menganggapmu "berharga" meskipun kamu hidup serba kurang dan lebih tepatnya serba sederhana. Masih akan ada kalangan yang menganggap kekayaan hati lebih pent...

Cerita 99 : So What's Next?

Cerita 99 : So What's Next? Siapa Bilang Hidup Ini Mudah? Bagi saya, hidup ini begitu rumit. Tetapi begitu menantang. Mengapa rumit? Ya, Rasakan saja, Seperti yang kita alami setiap hari. Setiap hari yang kita jalani sebelumnya adalah misteri. Tidak ada satu pun yang tahu dan mengerti, apa yang akan terjadi esok hari. Kalaupun ada yang berprediksi, tidak selamanya prediksinya tepat, ya, kan? Karena tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tahu akan hari esok. Bahkan tidak ada dari kita yang tahu tentang sesuatu yang akan terjadi beberapa milidetik ke depan. Apalagi esok, lusa, dst? Tetapi, karena "misteri"-nya itu, Membuat saya terus punya nyali tiap hari. Apa yang akan terjadi esok hari? Adakah baik? Atau sebaliknya? Yang saya tahu, saya hanya ingin dan terus ingin melakukan hal terbaik dalam hidup. Bukan hanya untuk saya, tetapi untuk seluruh orang yang berarti dalam hidup saya. Begi...

Cerita 98 : Sebuah Kebenaran In syaa Allah Pasti Akan Terungkap

Cerita 98 : Sebuah Kebenaran In syaa Allah Pasti  Akan Terungkap Sebuah kejujuran memang sangat mahal. Berupa barang langka ketika disandingkan dengan sebuah kebenaran. Namun, sebuah pepatah pernah mengatakan, sebuah kebenaran pasti akan terungkap meski tanpa dicari-cari, tanpa ditonjol-tonjolkan.  Kebenaran pasti akan terlihat, meski seribu cara dibuat untuk menyamarkannya. Yang pasti, kebenaran itu pasti terlihat. Dan sampai sekarang pun saya tetap yakin, Sebuah kebenaran pasti akan terungkap dengan bantuan-Nya. Silakan saja buat sejuta alasan untuk menutupinya. Silakan saja. Yang pasti, siapapun tidak akan pernah bersembunyi dari-Nya. Yang Maha Menguasai, Maha Tahu Segenap Alam.

Cerita 97 : Lelah Hati

Cerita 97 : Lelah Hati Memang sekali-sekali dalam kehidupan, yang namanya kenyataan amat jauh dari harapan. Terkadang membuat hati terasa lelah. Lelah fisik belum seberapa bila dipadu dengan lelah hati. Tetapi sebisa mungkin kita selalu dituntut oleh diri sendiri untuk mengatasi keadaan hati kita sendiri. Ketika lelah hati melanda, apa yang mesti dilakukan?   1. Salah satu cara mengatasi lelah hati, yakni dengan menyalurkan lewat hobi. Dulu. Duluuu... Sekali, bila hati saya lelah saya selalu stand-by di depan alat perekam. Untuk apa? Hehehe... Menyalurkan hobi! Terkadang lelah membutuhkan tempat penyaluran. Bila lelah fisik, biasanya dengan sedikit istirahat akan langsung sirna. Namun, bila hati yang lelah, saya selalu melepaskan dengan menulis atau bernyanyi. Ehem, ehem, meski memang suara saya kurang bagus saat itu, tetapi, toh, saya beruntung memiliki telinga yang belum pernah protes dengan nada-nada sumbang yang keluar dari pita suara saya sendi...

Cerita 95 : Untukmu yang Masih Dirahasiakan Allah

Cerita 95 : Untukmu yang Masih Dirahasiakan Allah Untukmu yang Masih Dirahasiakan Allah, Meski terkadang rasa risau mengganggu di waktu-waktu tertentu, Atau jarak dan waktu yang terasa perit dan pahit Namun azzam masih serasa kuat di dekapan Walau kadangkala airmata menggambar diri seolah tak berdaya Namun jauh di lubuk hati, senantiasa ada nama indah Allah yang terukir menguatkan Semua karena Allah. Dan hanya Allah. Adakah seperti itu juga dirimu? Untukmu yang Masih Dirahasiakan Allah, Mungkin raga ini tampak lemah, Tetapi Allah Maha Kuat lagi Menguatkan, Adakah seperti itu juga dirimu? Yang beraga kekar & kuat, Jiwa senantiasa berharap mudah-mudahan hatimu pun sekuat raga yang Allah karuniakan kepadamu (Aamiin) Atas nama perjanjian pada Allah, Maaf bila cara ini terasa menyakitkan, Sungguh, semua ini dilakukan dengan derai airmata yang tak kunjung habis, ...

Cerita 94 : Hanya Karena Allah

Cerita 94 : Hanya Karena Allah Dear Putra/Putri Lupi di Masa Depan  Anak-anakku yang soleh dan soleha dan yang tampan maupun cantik, Terserah kepada kalian mau memanggil kami apa nanti; ayah-bunda boleh, ibu-bapak, umi-abi, atau selain daripada itu. Asalkan itu panggilan baik-baik. Insya'a Allah akan kami sepakati. Di sini mungkin akan sedikit ibu/bunda/umi kalian jabarkan tentang sebuah cerita yang harus kalian tahu kelak bila kalian sudah dewasa. Sesuatu hal yang harus selalu dan selalu kita ingat, bila nanti terciptanya keluarga kecil kita itu semata-mata hanyalah karena Allah. Kita patut bersyukur pada Allah yang sudah menyatukan kita dalam sebuah bingkai keluarga yang insya'a Allah bahagia dan harmonis. Berkat Allah-lah kita memiliki keluarga sebahagia sekarang.  Maka dari itu, jadilah anak-anak ibu/bunda/umi yang soleh-solehah, ya. Karena Allah sudah mengaruniai banyak.... sekali kebaikan. Bahkan, sejak bertemunya ibu/bunda/umi dengan bapak...

Cerita 93 : Menanti

Cerita 93 : Menanti Menanti, adalah satu hal yang membuat hati ini gregetan. Ingin sekali menyeret jarum waktu agar momen "menanti" segera usai. Tapi sayangnya, kalau pun itu bisa dilakukan tidak akan merubah apa-apa. Hehe... Sebegitu sensasinya sebuah penantian. Yang terkadang manis, asam, asin. Semua campur aduk menjadi satu rasa. Rasa terbaik dalam lembar kehidupan.    

Cerita 92 : Cantik Bukan Prioritas

Cerita 92 : Cantik Bukan Prioritas Allah telah menciptakan tiap wanita dengan kecantikan yang sempurna. Bagi wanita yang menyadari, insya'a Allah ia akan mensyukuri betapa Maha Baik Allah mengaruniai setiap wanita dengan kecantikan luar biasa.  Hingga turun perintah Allah kepada kaum Adam untuk menundukkan pandangan, karena Allah sendiri pun lebih mengerti, bahwa kecantikan wanita yang super luar biasa itu mampu menjatuhkan iman lelaki.   Mengutip kata seorang ulama, "Memperbagus cover seringkali membuat kita lupa memperkaya isi." Iya, namun nyaris seluruh wanita di muka bumi mengejar cantik lahiriah ketimbang batiniah. Segala cara ditempuh demi kecantikan. Namun sebenarnya, cantik sejati ialah yang dari lahir hati. Hati yang cantik akan melahirkan pribadi yang cantik pula. Banyak wanita yang cantik secara lahiriah di dunia, namun tidak mampu menjaga kecantikannya dengan baik. Dengan mengumbar-umbarkannya kep...

Cerita 91 : Seperti Boneka Gratisan

Cerita 91 : Seperti Boneka Gratisan Di antara pembaca di sini pernah dirayu dengan SMS begini? " Dik, punya pacar? " "Maaf, gak punya." " Boleh daftar, dong. " "Oo, boleh... Silakan ambil formulirnya sama ortu." "Kenapa harus sama ortu? Sama adek ajalah. Mau kan jadi pacarku? " ":) maaf, gak butuh pacar. Tetapi calon suami. Dan kalau memang serius dan berminat silakan daftar & menghadap ortu buat interview ." (Obrolan pun ditutup. Dan jangan berharap no. hape saya bakal aktif lagi kalau sudah begitu.) Ya, selalu begitu. Berawal dari obrolan kecil, nanya-nanya sesuatu. Sampai nanya ke status. "Sudah punya pacar belum?" Hampir semua kita yang di sini pernah kan mendapat SMS/obrolan langsung menanyakan hal seperti ini? Dan jujur, apa yang kamu rasakan? Senengkah? Hmm... Justru saya kesel. Seperti tidak ada pertanyaan lain.  Mung...