Cerita 91 : Seperti Boneka
Gratisan
Di antara pembaca di sini
pernah dirayu dengan SMS begini?
"Dik, punya pacar?"
"Maaf, gak punya."
"Boleh daftar, dong."
"Oo, boleh... Silakan
ambil formulirnya sama ortu."
"Kenapa harus sama ortu?
Sama adek ajalah. Mau kan jadi pacarku?"
":) maaf, gak butuh
pacar. Tetapi calon suami. Dan kalau memang serius dan berminat silakan daftar
& menghadap ortu buat interview."
(Obrolan pun ditutup. Dan
jangan berharap no. hape saya bakal aktif lagi kalau sudah begitu.)
Ya, selalu begitu. Berawal
dari obrolan kecil, nanya-nanya sesuatu. Sampai nanya ke status. "Sudah
punya pacar belum?"
Hampir semua kita yang di
sini pernah kan mendapat SMS/obrolan langsung menanyakan hal seperti ini? Dan
jujur, apa yang kamu rasakan? Senengkah? Hmm... Justru saya kesel. Seperti
tidak ada pertanyaan lain.
Mungkin pertanyaan itu
terdengar seperti basa-basi belaka. Tetapi entah mengapa bagi saya sangat
melecehkan. Apalagi bila ditambah ajakan "pacaran, yuk!" Duh,
rasanya... Pingin, deh melempar buku Fiqih Munakahat ke hadapan mereka. Saya
mau minta tolong carikan, mana di antara sana BAB yang menganjurkan atau
memperbolehkan pacaran/khalwat? *sebel, euy
Dan kadang tidak sekadar itu.
Ada juga yang siap jadi suami asalkan...
"Saya mau jadi suami kalau
kita pacaran dulu kurang-lebih dua tahun. Nanti kalau cocok kita lanjut, kalau
nggak ya, kita lihat nanti. Yang pasti saat ini saya jatuh cinta sama anti."
Maksudnya????
Tahukah? Ketika
mendengar perkataan itu sedikit pun tidak terdetik bahagia di hati. Tetapi saya
malah merasa seperti sebuah boneka. Iya, sebuah boneka yang dipajang di etalase
toko, yang boleh diambil kapan saja, dibawa pulang berapa lama (selama-lamanya
pun boleh), terus, kalau sudah mulai gak suka atau bosan boleh dikembalikan ke
toko bersangkutan. Sebebas-bebasnya. Tidak ada aturan.
Pingin marah, itu pasti.
Tetapi sayangnya, saya bukan sosok yang mudah meluahkan marah. Justru airmata
saya yang akan beruraian sebagai peluahan semua itu, sebel itu, kesel itu.
Serendah itukah bagi mereka
menghargai seorang wanita?
Bermodalkan kata "kamu
cantik","aku cinta kamu", "l love you",
"aishiteru" mereka pikir mampu meluluhkan seorang wanita dan
menaklukan kapan saja.
Itukah yang dikatakan lelaki
baik-baik?
Mungkin tidak terpikirkan
oleh mereka soal itu. Karena hati yang sudah diselimuti nafsu.
Dan bagi wanita yang kurang
kuat benteng qolbu-nya, siap-siap runtuh dan jatuh.
Tidak habis pikir, setega itu
kaum adam kepada kaum hawa yang lemah?
Bukankah Allah mengaruniai
kekuatan lebih kepada pria agar menjadi pelindungnya. Bukan merusaknya.
Mungkin bukan merusak secara fisik.
Tetapi merusak pikiran dan mental.
Yang tadi seharusnya, mereka
adalah wanita kuat, tegar dan mandiri, menjadi lemah, melankolis bila tidak
dipuji dan dirayu-rayu.
Padahal, tanpa rayuan insya'a
Allah dia juga masih bisa hidup. Dan biarlah hatinya cuma bisa kena dengan
rayuan suaminya saja.
Dan lelaki bertanggungjawab itu
tidak akan merayu sebelum waktu.
Lelaki bertanggungjawab tidak
mungkin merusak wanita meski dengan rayuannya.
Dan wanita baik-baik bukan
yang bisa diambil kapan saja, dibawa ke mana saja serta dipulangkan kapan saja.
Karena kita bukan boneka...
Komentar
Posting Komentar