Cerita 97 : Lelah Hati
Memang sekali-sekali dalam kehidupan, yang namanya kenyataan amat jauh dari harapan. Terkadang membuat hati terasa lelah.
Lelah fisik belum seberapa bila dipadu dengan lelah hati.
Tetapi sebisa mungkin kita selalu dituntut oleh diri sendiri untuk mengatasi keadaan hati kita sendiri.
Ketika lelah hati melanda, apa yang mesti dilakukan?
1. Salah satu cara mengatasi lelah hati, yakni dengan menyalurkan lewat hobi.
Dulu. Duluuu... Sekali, bila hati saya lelah saya selalu stand-by di depan alat perekam. Untuk apa? Hehehe... Menyalurkan hobi!
Terkadang lelah membutuhkan tempat penyaluran. Bila lelah fisik, biasanya dengan sedikit istirahat akan langsung sirna. Namun, bila hati yang lelah, saya selalu melepaskan dengan menulis atau bernyanyi.
Ehem, ehem, meski memang suara saya kurang bagus saat itu, tetapi, toh, saya beruntung memiliki telinga yang belum pernah protes dengan nada-nada sumbang yang keluar dari pita suara saya sendiri, paling-paling terkadang tetangga yang sedikit terganggu :D
Menyalurkan lelah hati lewat lagu, pokoknya lagu apa saja yang lagi in pada saat itu. Meski terkadang liriknya salah-salah. Nadanya entah kemana. Tetapi setelah itu saya merasa lelah di hati sedikit berkurang. Malah keranjingan nyanyi dengan alat perekam.
Tetapi kebiasaan itu sudah lama tidak saya lakukan. Mengingat ada banyak hal yang lebih bermanfaat.
Dengan menulis misalkan.
Kebanyakan hasil karya saya lahir karena saya yang sedang merasa suntuk sekali.
Yup, seringnya saya menyalurkan lelah hati lewat tulisan, entah itu puisi, cerpen atau coretan-coretan di buku harian.
Karena ada dua keuntungan yang saya dapatkan dari menyalurkan lelah hati lewat menulis, yang pertama, lelah di hati saya sementara menghilang. yang kedua, coretan-coretan itu bisa saya baca kapanpun, sehingga saya bisa mengambil banyak pelajaran dari situ, atau mengoreksi diri.
2. Curhat bersama Teman Terdekat
Untuk hal satu ini, saya biasanya tidak sembarangan. Ada beberapa sahabiyyah terdekat yang sudah paham betul tabiat saya. Jadi, saat handphone-nya berdering, entah itu SMS atau Telpon dari saya, dia sudah paham, bahwa ada sesuatu yang mesti saya ceritakan dan saya membutuhkan solusi. (Hehehe, afwan, ya, Ukhtina...)
Beruntung saya dikaruniai sahabat-sahabat yang senantiasa memahami saya kapan pun, karena belum pernah saya mendengar mereka marah meskipun kadang curhatan saya terbilang super bawel. Malah mereka hanya menasihati saya dengan satu kalimat yang sudah sangat saya hapal, "Perbanyak solat malam, ya, Pi..."
Selain sahabat, saya juga punya ibu yang selalu sabar mendengar cerita saya tentang apapun. Beliau pun tak pernah luput memberikan nasihat untuk senantiasa dekat dengan Allah. Karena sejatinya, ketenangan hati hilang diakibatkan oleh jauhnya hati kita dari Allah.
3. Solat Malam.
Melantunkan do'a sehabis qiyamul lail adalah waktu "curhat" terbaik yang menjadi andalan saya. Curhat kepada Rabb semesta alam. Seperti berbicara dari hati ke hati. Tak jarang saya meneteskan airmata kala curhat di hadapan-Nya. Sementara saya larut dalam tangis saya dan ada Allah yang mendengar segala keluh-kesah saya. Ah, subhanallah... Rasanya tidak ada momen sebaik ini!
Berikut tips yang biasa saya lakukan dalam mengatasi lelah hati. Kalau sobat?
Komentar
Posting Komentar