Cerita 36 : Generasi Menang Gaya
Jujur
saja, saya agak mulai khawatir menyaksikan berbagai fenomena yang timbul seiring
munculnya bermacam jenis jejaring sosial. Sebut saja salah satunya adalah
facebook atau FB. Siapa yang tidak kenal sama jejaring sosial satu itu. Jejaring sosial yang awalnya dibuat hanya untuk komunitas tertentu saja, untuk kemudian merebak bahkan hingga ke daerah-daerah pelosok yang mapan sinyal untuk berinternetan ria. Tidak perlu ditanya lagi, sebab dari yang muda sampai yang tua pasti punya yang namanya akun jejaring sosial tersebut.
Sebagaimana hasil dari kecanggihan teknologi, ada dampak baik adapula dampak buruknya. Dampak baiknya, dengan memiliki akun jejaring sosial FB, kita bisa saling berinteraksi, saling berbagi dan bertukar pikiran dengan hemat biaya. Karena biaya main internet kini sudah terbilang murah bila dibandingkan dengan jaman saya waktu SMA dulu. Kalau jaman saya SMA, bermain internet di warnet saya cukup membawa uang Rp. 3000 untuk satu jam ngenet. Tapi sekarang semakin murah, bahkan ada beberapa kartu perdana SIM pasca bayar yang menyediakan kuota internetan gratis seharian penuh khusus untuk mengakses jejaring sosial tertentu. Semakin mudah, bukan?
Sedangkan dampak buruknya? Hmm, ini yang ingin saya sampaikan. Dan sebelumnya, izinkan saya untuk sedikit bercerita tentang kejadian-kejadian yang saya temui akhir-akhir ini. Kejadian-kejadian yang begitu menggelitik relung hati saya, tentang merebaknya kaum-kaum doyan eksis dan narsis namun minim prestasi. Ya, eksis, narsis namun miskin prestasi.
Sobat mungkin sering melihat seseorang yang dengan susah-payah selfie (memoto dirinya sendiri) di dekat tokoh terkenal atau pada even tertentu, seolah-olah dia begitu berperan penting di sana namun sebenarnya dia tidak begitu. Atau sebenarnya tidak ikut menggiatkan suatu acara tertentu, namun berfoto seakan-akan dialah "tokoh utama"-nya di sana, untuk di-upload di jejaring fesbuk atau jejaring sosial lainnya, padahal hanya gaya-gayaan saja.
Waaaw, sebagian orang (termasuk saya) biasanya akan sedikit pusing bila menyaksikan hal ini. Yaah, lucu memang, namun itulah kenyataannya setelah jejaring sosial mulai menjamur ke permukaan sebagai bukti olahan kecanggihan orang-orang intelek. Yang apabila disalahgunakan, sama saja tidak memberi manfaat, malah menyusahkan. Ya, salah satu contohnya itu, menipu dirinya sebagai orang berprestasi, padahal bukan. Padahal, kalau saja diri itu diberi kesempatan untuk bereksplorasi sesuai imajinasi yang telah ia gambarkan lewat "foto-foto rekaan" mungkin ia akan lebih tampak hebat dari sekadar foto-foto sandiwara itu.
Dengan merasa diri telah berhasil, bukan tidak mungkin akan menimbulkan rasa malas untuk berupaya lebih bagi mencapai puncak yang dicita-citakan. Dan bukankah itu namanya menyiksa diri sendiri?
Yuk, kita kembali ke dunia asal kita. Jangan lagi mau jadi penghuni sejati dunia maya, tetapi muncullah sebagai orang-orang berprestasi di dunia nyata. Kehadiranmu sudah begitu ditunggu-tunggu. Jangan mau jadi generasi yang menang gaya. Setuju?
Iya Sis, memang efeknya luar biasa berpengaruh. Saya salah satu korbannya, heheheh... Salam kenal aja yach... :-)
BalasHapusOke, Bung Blogger Borneo. Salam kenal kembali, ^_^
Hapus