Cerita 28 : Caleg yang Tidak Ramah
di Jalan, Tidak (Merasa) Perlu Dipilih
Menuju
tanggal 09 April 2014, banyak janji-janji yang mengambang di berbagai
permukaan di mana pun mata kita melanglang. Di pinggir-pinggir jalan terutama.
Sekilas, mereka (para caleg) memang mengurai senyum ramah dengan sorot penuh
pengharapan, seolah menyatakan kalau mereka sanggup menjalankan tugas
legislasi, penganggaran serta penyampaian aspirasi bila saya mereka terpilih
sebagai anggota penyuara nurani rakyat nantinya.
Sayangnya,
senyum itu hanya bisa kita tatap dalam spanduk-spanduk sekarang, seakan masih
ada spasi yang menjalar di antara kita dengan mereka, sehingga kita tidak tahu
pasti, benarkah mereka bakal menjalankan tupoksi mereka dengan baik setelah
mereka terpilih nanti?
Hmm,
siapa saja bisa mengukir janji, termasuk itu para calon legislatif atau lebih
akrab disebut dengan caleg. Namanya juga janji, seringnya ringan diucapkan
sedangkan untuk memenuhinya, relatif.
Bahkan
ada yang pura-pura lupa dengan janji-janjinya, atau memang benar-benar terlupa,
yaa, maklum, manusia memang tempatnya silap dan lupa. Dan itu bisa saja kita
maklumi, tentunya selagi belum melewati batas toleransi.
Tetapi,
terkadang saya tidak habis pikir, di tengah marak-maraknya penyebaran janji
kini, ada banyak caleg yang menurut saya tersenyum ramah di spanduk-spanduk,
baliho, atau selembaran yang tercantum nama caleg bersangkutan berikut
janji-janji yang ditawarkan bila terpilih nanti, namun berwajah datar saat
ditemui atau juga diajak bercakap-cakap. Atau bahkan ada lagi yang bila
berpas-pasan di jalan seakan-akan tidak melihat, acuh tak acuh saja. Adapula
yang pura-pura ramah demi meraup simpati serta empati rakyat, tapi bila sudah
terpilih suara rakyat pun dibiar sekarat. Wah... warning, nih! Artinya,
kita (para calon pemilih) yang mesti berhati-hati dalam menggunakan suara.
"Duh,
kalau belum terpilih saja lagunya sudah seperti itu, bagaimana kalau sudah
terpilih nanti? Bukan hanya ditidakacuhkan, bisa-bisa janji-janji yang pernah
ia tulis dan disebar-sebarkan malah dilupakan, karena memang hanya sekadar
digunakan untuk menarik minat orang yang rajin baca-baca tulisan di
spanduk/baliho saja."
Nah,
itu dia! Itu dia kenapa kita yang harus berhati-hati. Tandanya, kita yang
diharuskan menjadi pemilih yang cerdas, tidak asal pilih dan terkesima atas
kerupawanan/kejelitaan para caleg juga janji-janji yang belum tentu
ditepati. Sebab apa? Karena, kecantikan dan ketampanan rupa atau mantapnya
janji-janji yang terlontarkan belumlah mencerminkan kalau sebenarnya mereka
mampu menjadi wakil kita.
Cantik
dan tampan rupa bisa saja dipoles. Janji-janji juga bisa dirangkai sebagus dan
semenyakinkan mungkin. Yap, dalam artian, kita tidak hanya melihat
janji-janjinya, tapi teliti pulalah akhlaknya; Bagaimana track record-nya
dalam kegiatan sosial masyarakat dan kemashlahatan ummat, bagaimana akhlaknya
dalam lingkungan keluarga atau masyarakat? Kalau dalam lingkungannya sendiri
saja sudah tidak karu-karuan, bagaimana bisa ia menjadi wakil yang baik? Kalau
bertemu di jalan saja ia acuh-tak acuh, bagaimana kalau sudah terpilih dan
betah duduk di "kursi panas" kantor menyuarakan aspirasi kita?
Memang,
macam-macam motivasi seorang caleg mencalonkan dirinya untuk menjadi caleg,
hanya dia dan Allah, SWT-lah yang tahu niat awal kenapa ia memilih jalan
menjadi caleg sebagai jalan pengemban amanahnya sebagai khalifah di muka bumi
Allah. Dan hari ini sampai esok waktu yang ditentukan merupakan kesempatan bagi
mereka untuk "tebar pesona" sesering-seringnya. Sayangnya, kita tidak
akan pernah bisa tahu niat awal mereka sebetulnya , karena kita yang tidak
pernah diberi keahlian untuk membaca hati satu sama lain sehingga kita tidak
bisa sembarang vonis, karena memang hati hanya mampu merasakan.
Dan
kini adalah masa di mana mereka melukis diri mereka sendiri sebagai para caleg.
Di atas tutur kata, tingkah laku, di hadapan masyarakat dan juga di
hadapan Rabb-nya. Selanjutnya, kitalah yang menilai lewat hati. Sebab hatilah
yang teramat peka terhadap apa yang juga benar-benar terlahirkan dari lubuk
hati.
Sedangkan,
untuk mereka yang enggan beramah-tamah di jalanan, mungkin mereka sedang tidak
mengharapkan untuk dipilih.
Bagaimana
mau dipilih, wong bersuara dan menata hatinya saja dia enggan, bagaimana mau
menata Undang-Undang dan menyuarakan keluhan rakyat?
#thinkagain
#katakantidakuntukgolput
Komentar
Posting Komentar