Cerita 32 : Tempat Kerja Idaman
Sedikitnya dari kita
mungkin memiliki yang namanya kriteria-kriteria tertentu bagi sesuatu yang
ingin kita dapatkan. Entah itu kriteria rumah dambaan, suami ideal bahkan
mungkin tempat kerja idaman. Hingga menjadi suatu kewajaran bila dengan
serta-merta kita menetapkan suatu ukuran bagi sesuatu yang ingin kita capai
tersebut.
Seperti juga
saya, tempat kerja idaman adalah salah satu keinginan yang tercatat dalam
setiap do’a dan harapan saya. Tempat kerja yang nyaman. Rekan-rekannya yang sejalan. Tak tanggung-tanggung, sampai-sampai saya berharap, kalau suatu saat, bila saya diterima kerja di suatu tempat, saya berkeinginan diterima di tempat yang kerap mengingatkan dan tiada melupakan saya dengan ibadah. Karena memang pada umumnya, orang yang bekerja acap lupa diri, karena tersibukkan dengan pekerjaan serta melupakan apa sebelumnya menjadi tujuan mengapa ia bekerja.
Tempat kerja idaman saya lumayan muluk menurut tinjauan teoritis saya pada saat itu. Karena tempat kerja yang saya hendakkan adalah tempat kerja yang tetap membolehkan saya leluasa bekerja sekaligus membolehkan saya mengerjakan rutinitas yang tidak ingin saya tinggalkan seperti saat saya belum bekerja; yakni rutinitas sholat dhuha dan tilawah.
Banyak yang bilang, ibadah ya ibadah. Kerja ya kerja. Mau jadi ahli ibadah ya, ibadah saja. Mau jadi pekerja, ya bekerja saja. Mau mengaji ya, di rumah atau tempat pengajian, tempat kerja adalah tempatnya orang bekerja. Tidak bisa digabung-gabung alias mesti memilih salah satu. Dan saya adalah salah seorang yang pernah ikut manggut-manggut dengan pendapat seperti itu. Namun, seiring berjalannya waktu, saya justru menemukan arti lain dari sekadar kata bekerja. Bekerja ya, bekerja. Ibadah ya, ibadah. Yaaa, saat kita bekerja kita bekerja dengan sungguh-sungguh sementara bila telah masuk waktunya ibadah, yaa, terlebih ibadah itu hukumnya wajib, mau tak mau, suka tak suka, pekerjaan sepenting apapun harus ditinggalkan. Ya, ditinggalkan untuk sementara.
Bekerja memang termasuk ke dalam ibadah. Orang yang bekerja dengan niat mencari nafkah di jalan-Nya, tiap tetes keringat lelahnya bernilai ibadah baginya. Tetapi alangkah terasa ruginya bila hanya gara-gara mencari nafkah di dunia, ibadah yang sifatnya tabungan bagi kita di akhirat kelak tergadaikan. Apalagi bagi yang sebelumnya sudah rutin mengerjakan suatu ibadah sunnah tepat waktu, namun setelah segala hajatnya tercapaikan justru yang menjadi kerutinan sebelumnya menjadi tertinggalkan. Artinya, semangat ibadah kita yang menurun digantikan dengan semangat bekerja yang tiada habisnya.
Memang tidak ada salahnya, lagipula ibadah yang kita tinggalkan hukumnya masih sunnah artinya, dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa-apa; tidak berdosa. Namun, membaca kembali untaian hadis berikut membuat airmata saya kembali menitik, Allah... Betapa meraih surga-Mu itu mudah, namun cobaan dunia begitu menghalangi, jadikan kami hamba-hamba yang selalu mendahulukan-Mu daripada apapun, biarkan kami mencukupi sedekah tiga ratus enam puluh sendi setiap hari dalam sujud dhuha kami.
"Di dalam tubuh manusia terdapat
tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai
Nabiyullah?”
Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)
Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)
Itulah salah satu alasan mengapa saya mengidamkan tempat kerja seperti yang saya dambakan.
Komentar
Posting Komentar