Cerita 29 : Yang Para Ibu dan Calon
Ibu Perlu Tahu
Anak merupakan titipan dari Allah,
SWT untuk dididik juga dijaga. Kelahiran anak dalam keluarga selalunya menambah
semarak suasana rumah tangga. Namun, seringkali seorang ibu tidak sepenuhnya
menyadari kalau anak mereka adalah anugerah yang tak terkira. Bukan saja
sebagai pelengkap anggota dalam sebuah keluarga, melainkan mutiara yang
senantiasa harus kita rawat agar terpelihara kemilaunya.
Sejak kecil, seorang ibu dengan
getol mengajari anaknya berjalan hingga berbicara. Jadi, tidak perlu heran
kenapa kita bisa lancar berjalan dan berbicara saat kita dewasa. Itu semua
berkat upaya seorang ibu yang menginginkan anaknya agar tumbuh-berkembang
normal layaknya anak-anak manusia lainnya.
Tetapi, satu hal yang sering kaum
ibu lupakan, yaitu mengajak putra-putri ibu untuk berbincang-bincang, berinteraksi
saat mereka beranjak meremaja.
Seorang ibu banyak kehilangan momen
pada saat anak-anaknya melewati masa-masa kritis. Menanyakan perasaannya saat
mengikuti atau menang lomba. Menanyakan pengalamannya selama berjalan ke mana
saja. Menanyakan tentang apa yang sedang mereka rasakan saat sekarang. Hingga tidak
jarang, seorang ibu terkejut saat mendapati cerita-cerita "sisi lain"
sang anak justru dari orang lain, seperti sahabat terdekatnya atau
guru-gurunya.
Sahabat. Ya, sahabat. Anak-anak ibu sangat
membutuhkan yang namanya sosok sahabat dalam kehidupannya yang beranjak menuju
remaja. Sahabat yang bisa ditanyai kapan saja, dan diminta pendapat mengenai
apa saja.
Banyak ibu yang "terkesan"
lepas tangan (padahal tidak) terhadap tumbuh-kembang putra/putrinya saat remaja
karena menganggap anak yang sudah dewasa, mampu mengambil keputusan hidupnya
sendiri juga agar anak belajar hidup mandiri.
Pemikiran yang demikian sama sekali
tidak salah, Bu. Hanya saja, sebelum ibu melepaskan secara keseluruhan demi
mengajari anak bertanggungjawab, ada baiknya peran ibu turut andil di sana,
sehingga anak tidak merasa tidak dipedulikan dan merasa jauh dengan ortunya
sendiri, padahal dekat teramat dekat.
Sehingga tidak kita temukan lagi
anak yang tidak hormat kepada ibunya, atau anak yang senang berkata atau
bertindak kasar dengan ortunya sendiri lantaran merasa kehadiran ortu dalam
kehidupannya sama sekali tiada.
Rugi lho, Bu, kehilangan momen-momen
tumbuh-kembang mereka. Dan percayalah, setiap anak memiliki keistimewaannya
masing-masing, hanya perlu terus-menerus diupaya, sebagaimana butiran emas yang
dipadu menjadi sebentuk cincin.
Tidak ada anak tidak berguna, sebab
orang tuanya-lah yang menjadi penentu sekaligus membantu menemukan potensi apa
yang berguna bagi anaknya kelak bila mereka dewasa.
Seperti kata dalam hadist : "Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orangtuanyalah yang dapat menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi." (HR. Muslim)
Komentar
Posting Komentar