Cerita 23 : Tulisan di Samping Kanan
Meja Kerja
Terbilang dua minggu sudah saya
menempati meja kerja saya itu. Walau cuma lebih-kurang delapan hari saya menghuni
di situ. Selebihnya, saya tidak banyak bergerak, kecuali di kelas atau sesekali
menyinggahi labor komputer yang belum tersentuh tangan siswa/i sama sekali.
Sehari yang lalu, kami kedatangan
rekan kerja baru, yang sudah lumayan saya kenal di bangku kuliah dulu. Oleh Pak
Kepala, beliau diposisikan di meja samping kanan saya namun agak ke belakang.
Mau tak mau, posisi meja kerjanya yang baru membuat kaki saya sedikit mau
beranjak ke lorong-lorong meja kerja rekan, yang kebetulan dulunya dihuni oleh
para lelaki.
Kini, meja-meja itu kembali terisi.
Dan salah satunya oleh kaum hawa, juga teman saya sendiri. Sebagai rekan yang lebih dahulu masuk dan bekerja di situ, meski hanya berbeda waktu dua minggu, perlahan saya memberikan arah-tunjuk seputar pekerjaan. Dan di tengah keasyikan obrolan kami yang masih perlahan, mata saya tiba-tiba saja tertuju pada selembar kertas yang tertempel tepat di samping kanan meja kerja saya, tulisan itu membuat saya tersentak.
Quote
itu sudah pernah saya dengar sebelumnya, hanya saja saya lupa kata-kata
pastinya. Yang saya ingat hanya pesan tersirat dari petikan kata seorang motivator
ulung di negeri ini tersebut. Pesan itu setidaknya berbunyi begini, "Bila kamu merasa pantas digaji tinggi, jadilah pribadi yang pantas digaji tinggi, dan tempatkanlah dirimu di tempat yang membuatmu pantas digaji tinggi."
Dalam perbualan, saya dibuat tercenung sejenak oleh kata-kata itu. Kata-kata yang selama berminggu telah tertempel di meja saya, hanya saja saya tidak menyadarinya, dan yang pasti saya tidak tahu siapa yang menempelnya, karena saya yang memang "pendatang baru."
Sekilas pesan itu terbaca seperti sedang menasihati agar tetaplah bertahan dalam membangun diri agar pantas mendapatkan gaji tinggi. Namun di sisi lain saya serasa ditinju meski hanya dengan selembar kertas. Duh, saya jadi teringat beberapa rekan yang resign atau enggan menerima tawaran pekerjaan hanya karena gaji yang ditawarkan begitu rendah menurut perhitungan mereka.
Saya jadi kembali berpikir, mungkin ada benarnya mengapa mereka resign atau menolak tawaran kerja hanya karena memperhitungkan jumlah lembar gaji. Karena merasa dirinya pantas digaji tinggi dan mendapatkan tempat yang lebih layak bagi pribadi yang layak digaji tinggi. Namun, di lain sisi, terbit pertanyaan, benarkah orang yang merasa layak digaji tinggi itu pantas digaji tinggi sementara kinerjanya menunjukkan kalau ia hanya layak digaji rendah?
Sangat pasti ini menjadi cerminan bagi diri saya sendiri. Apalagi saya yang merasa masih terlalu muda. Masih begitu banyak waktu untuk belajar dan bekarya, membuktikan diri, bahwa saya layak dan berpotensi. Bukan hanya merasa layak dan berpotensi sementara output yang saya keluarkan nol besar.
Dan berkat tulisan di samping kanan meja kerja saya itu, saya jadi lebih giat dengan apa yang saya tekuni sekarang, karena saya percaya, tempat saya bekerja sekarang bukan hanya tempat saya bekerja melainkan tempat saya belajar, membentuk diri menjadi pribadi yang pantas digaji tinggi.
Komentar
Posting Komentar