Cerita
24 : Apa dan Siapa?
Mungkin
kita sering dengar; "Dengarkan
(kebaikan) apa yang disampaikan jangan lihat siapa yang menyampaikan (kebaikan)"
mungkin kalimat ini ada benarnya, di mana dalam memberi maupun menerima kebaikan, sebaiknya kita jangan tebang-pilih. Butakan mata sejenak, dan resapilah setiap kebaikan yang datang.
mungkin kalimat ini ada benarnya, di mana dalam memberi maupun menerima kebaikan, sebaiknya kita jangan tebang-pilih. Butakan mata sejenak, dan resapilah setiap kebaikan yang datang.
Namun,
bila kalimat itu saya kembalikan ke diri saya sendiri, rasanya sungguh aneh. Dengarkan
apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan. Lalu, bila yang
menyampaikan ini (Saya) belum melakukan apa yang saya sampaikan bagaimana? Saya
menyuruh orang solat tepat waktu, yang menyampaikan sendiri belum tentu solat
tepat waktu. Lalu? Di manakah letak kekeliruan saya sebenarnya?
Seorang
ulama pernah mengatakan, seorang yang lembut hatinya adalah seorang yang ringan
dalam menerima hidayah. Hatinya peka dengan cahaya yang sebenarnya telah
diterangkan kepada masing-masing umat muslim. Tinggal kepada yang menerima.
Adakah cahaya itu digunakan sendiri untuk kemudian diberikan kepada orang-orang
lain. Atau malah diabaikan begitu saja.
Hati
yang begitu peka ialah hati yang disuluhi iman. Yang mana salah satu cirinya,
apabila disebutkan nama Allah lalu bergetar hatinya. Lalu saya kembali
introspeksi. Masih adakah getaran itu? Atau malah tidak ada sama sekali?
Kembali
lagi pada apa dan siapa. Mungkin memang benar, kebaikan tidak mengenal siapa
yang membawa, menyampaikan, menerimanya. Namun, alangkah lebih baik lagi jika
yang membawa dan menyampaikan kebaikan adalah diri yang sudah baik pula. Bukan
menunggu baik. Tapi menjadi baik dengan segera. Dengan begitu, segala resahpun
hendaknya sirna.
Komentar
Posting Komentar