Cerita 21 : Untuk Adik-adikku
Untuk
Adik-adikku,
Mungkin
kakakmu ini, bukan kakak yang diberi umur panjang seperti yang kalian tahu.
Bisa jadi kakak yang pergi terlebih dahulu. Yaa, ajal kita siapa yang tahu ya,
Dik? Dia bisa datang kapan saja kepada siapa saja yang dia mau. Dan tidak
terkecuali itu kepada kakak. Untuk itulah kakak tulis tulisan ini sebagai
pengingat, pada saat kakak tiada lagi nanti.
Adik-adikku,
Menjadi
kakak mungkin adalah kebanggaan terbesar yang pernah kakak miliki. Menasihati
kalian, mendengarkan kalian bercerita, menyaksikan kalian tumbuh. Itu semua
menjadi pengalaman hidup kakak yang tidak bisa kakak nilai dengan apapun selain
ucapan syukur yang tiada terhingga.
Beruntung
sampai hari ini kakak masih diberi hidup, diberi kesempatan untuk menghirup
udara dengan bebas. Betapa tidak bisa kakak bayangkan bila suatu hari kakak
tidak bisa melihat kalian lagi, tidak bisa menasihati kalian lagi, protect
terhadap apapun yang kalian perbuat.
Sebenarnya,
kakak ingin melakukan itu semua sepanjang hidup kakak. Bukan karena ingin
mengekang kebebasan kalian. Tapi justru karena kakak menyayangi kalian.
Dik,
Kalau
kakak sudah tiada nanti, tetap pintar-pintar jaga diri, ya. Pintar-pintarlah
memilih pakaian, jangan sampai apa-apa yang sudah sepantasnya kita
"simpan" kita pampang secara jelas.
Sudah
kakak bilang, kalau kalian semua itu cantik. Tanpa memperlihatkan aurat, kalian
tetaplah adik-adik kakak yang cantik.
Derajat
mulya seseorang bukankah tercermin dari elok paras tubuhnya yang dipapar-papar.
Tapi seberapa taqwa ia pada Rabb-nya. Dan seberapa sayang ia pada tubuhnya
sendiri, sehingga tidak mudah ia bagi-bagi, meskipun itu dalam bentuk gambar
mati.
Kita
semua adalah cantik. Kalian cantik. Kakak juga cantik (Tapi secantik-cantiknya
kalian, tetaplah kakak yang paling cantik, hehehe... Kan kakak paling tua)
Namun, menghargai kecantikan bukanlah dengan seberapa sering kita menampakkannya,
melainkan seberapa besar upaya kita menutupinya, agar orang-orang yang lemah
imannya tidak turut teperdaya dengan kemolekan yang kita punya.
Hati-hati,
Dik.
Kakak
takut, kalau kalian kenapa-kenapa karena ulah kalian yang tanpa pikir panjang itu.
Kakak takut, kalau suatu saat Allah menanyakan tentang tanggung jawab terhadap
keselamatan kalian. Kakak takut, kalian kehilangan agama yang telah kita peluk sama-sama sejak lahir.
Seperti
yang kakak bilang, sejak kalian terlahir, dan kakak ternobatkan menjadi seorang
kakak bagi kalian dengan niscayanya, di situlah tugas dan peran kakak dimulai.
Bukan
hanya sebagai yang lebih tua. Bukan hanya sebagai orang lebih dulu mengenyam
ilmu. Bukan hanya sebagai yang bisa lebih dulu mengenal apa yang dinamakan
hidayah. Tetapi,
sebagai seorang kakak yang siap siaga "mendakwahi" dirinya serta keluarganya.
Oh,
ya, Dik,
Bila
kakak sudah tiada nanti, tetap jaga dirimu, ya. Do'akan kakak tenang di alam
sana nanti. Dan tetap genggam terus hidayah-Nya, jangan lelah menempuh jalan
lurus. Karena sepanjang jalan kehidupanmu nanti pasti akan kau temukan liku. Jangan goyah, Dik. Itu cuma secuil rintangan yang seharusnya bisa kalian
hadapi. Ingat dengan tujuan kita yang tak pernah berubah,
Yakni
surga-Nya.
Kakak sayang kalian...
Kakak sayang kalian...
Peluk
sayang & cinta
Dari
kakak kalian tersayang,
Palupi
Komentar
Posting Komentar