Cerita
18 : Kenapa Harus?
Memikirkan orang lain memang tidak
akan pernah habisnya. Mau itu soal keburukannya atau kebaikannya. Terkadang kita direpotkan dengan sikap buruk orang kepada kita, bukan sikap buruk kita kepada orang lain.
Pertanyaannya, kenapa harus? Ya,
kenapa harus kita pikirkan? Bukannya di akhir kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita masing-masing? Dan buah manis, asam, pahit yang kita petik esok merupakan hasil dari yang kita "tanam" hari ini.
Bila yang kita tanam kebaikan,
bersiap-siaplah kita akan menuai kebaikan pula. Sebaliknya, bila yang kita tanam keburukan, maka bersiap-siap pula akan kerusakan yang kita bakal kita tuai.
Life is simple,
teramat simple. Tidak perlu terlalu memusingkan tentang orang yang menyudutkan
kita, yang enggan menyambut kita dengan welcome-nya,
atau orang yang kebanyakan menilai potensi kita dengan melihat fisik.
Cukup kita balas dengan senyuman, sikap ramah dan potensi besar yang telah Allah, SWT karuniakan.
Kebanyakan, orang yang berbuat khilaf karena mereka yang belum tahu, kalau yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan.
Dan sebagai calon jiwa orang besar, seharusnya punya pintu ma'af yang lebar pula bagi menyadarkan kesalahan mereka.
Itu baru namanya, ksatria kehidupan.
Komentar
Posting Komentar