Cerita 8 : Di Mana “Dendam”
Cenderung Terletak?
Pernah
mengalami yang satu ini?
Segumpal
rasa yang ingin meronta diantara hati yang ingin betul-betul melupa
dengan waktu yang terlanjur dilewati.
Sewaktu
kita di bawah, tiada satu pun yang bersedia menolehi wajah kita.
Sekalinya,
takdir Allah menginginkan kita untuk berada di atas tentunya dalam upaya keras
disertai dengan do'a orang-orang yang dengan tulus mendo'akan kita didengar
oleh Allah ta'ala, tiba-tiba saja mata yang sediakala enggan memandang, menjadi
benar-benar lekat, bahkan disertai dengan ucap-ucap; "wah... itu dulunya
teman saya" "itu, sodara saya..." "dia tetangga saya..."
Merasa
dendamkah kita? Dan ingin membalas dengan kembali memalingkan muka yang pernah
tertunduk malu di masa lalu?
Oh…
Sebaiknya, jangan!
Jangan
lagi kita pikirkan siapa kita yang dulu dan siapa kita yang sekarang. Meskipun
orang-orang itu memandangmu demikian.
Karena,
di saat kamu membandingkan dirimu dan menyadari dirimu yang sekarang, justru di
situlah dendam itu bersemayam.
Biarkan
sajalah ia layu, lalu mati. Tanpa mau kita toleh lagi.
Karena
hidup kita terlalu berharga sekadar untuk mempedulikan puji ataupun caci dari
mulut-mulut kepemilikan orang yang pada dasarnya statusnya sama dengan
kita, sama-sama seorang hamba, hamba Allah, SWT.
Komentar
Posting Komentar