Cerita 15 :
Sedih, Murung, Kecewa
Di
saat kita bersedih, murung dan kecewa, ada satu hal yang perlu kita sadari
bahwa Allah, SWT menakdirkan segala kejadian adalah berdasarkan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Bersyukur dengan keadaan hari ini, itu lebih baik. Daripada memurungkan diri, sedih, melakukan apapun tanpa adanya semangat.
Terkadang, kita harus paham dengan keadaan kita sendiri, Tidak perlu menunggu dipahami orang lain.
Sedikit sekali orang-orang yang mau paham dengan kesedihan, kemurungan dan rasa kecewa orang lain. Karena pada dasarnya, setiap manusia pasti memiliki ketiga rasa itu di setiap hari-harinya. Hanya saja, mereka lebih tegas, lebih tangkas dalam menanggapi kesedihan, kemurungan, kecewa hingga tampak baik-baik saja.
Perlu kita ketahui, semakin kita berharap, terlebih kepada manusia, maka semakin besar pulalah kesedihan, kemurungan, rasa kecewa itu menggenangi ruang hati, pikiran, perasaan juga jiwa kita.
Karena memang tidak banyak orang yang mau menyediakan dirinya sebagai sosok penasihat. Kebanyakan mereka hanya menilai kita berdasarkan dari apa yang tampak. Cara berjalan kita yang gontai, mata kita yang kehilangan binar semangat, mengerjakan sesuatu tanpa melibatkan jiwa, seolah diri terombang-ambing di tengah-tengah ombak kehidupan yang mahaluas, lalu dihempas ke tebing, tanpa siapapun yang mau peduli.
Jangan salahkan siapa-siapa. Mungkin karena diri itu sudah lumayan dewasa, dan justru itu, mereka menganggap kita mampu menanganinya sendiri. Karena masing-masing kita punya Allah, SWT, tempat mengadu segala persoalan, dan tempat kita menyandarkan apa-apa yang di luar keterbatasan.
Sudahilah kesedihan itu. Usaikanlah murung. Pendamlah rasa kecewa. Yakini, kalau hari ini adalah sebaik-baiknya hari pemberian Allah, SWT, begitu juga untuk hari esok, dan seterusnya. Inilah takdir yang mesti disyukuri.
Komentar
Posting Komentar