Cerita
46 : Masihkah “Islam” Sekarang Penuh Cinta?
Ada
satu yang hilang di muka bumi Allah ini. Satu hal yang sering
disebut-sebut namun sering dilupa. Cinta. Hampir setiap hari kita mendengarnya.
Namun sangat jarang kita terapkan. Eit’s, jangan salah duga dulu, yang dimaksud
di sini bukanlah “Cinta” negative seperti kebanyakan. Tetapi, ini mengenai
cinta kita sesama muslim/muslimah. Cinta sesama saudara seiman. Cinta yang
saling mengingatkan ketika di antara kita terdapat salah. Cinta yang saling
menguatkan ketika di antara kita ada yang lemah.
Akhir-akhir ini saya selalu merasa
kehilangan. Kehilangan nuansa Islam yang sangat sejuk dan bersahabat. Yang
berlembut-lembut dalam bertutur sapa. Yang mengagumkan ketika disyi'arkan. Yang
mana orang akan berduyun-duyun mendengarkan ketika yang dibicarakan adalah
mengenai Islam, agama yang kita peluk bersama-sama.
Hilangnya nuansa itu kian terasa saat saya
menyaksikan ada di antara kita (saudara seagama) yang luput dalam
keterbatasan ilmunya, atau sedikit tergelincir dalam kesilapan maupun
kekhilafan. Umumnya, bukan kelembutan yang kita saksikan, namun kekasaran demi
kekasaran. Bukan cinta yang menuntun ke jalan yang benar yang justru kita
dapatkan, melainkan bergumpal-gumpal batu kebencian yang sengaja dilemparkan
sehingga menerpa wajah-wajah kita hingga membekas di hati.
Perisitiwa ini tentunya membuat hati ini selalu
bertanya-tanya, kemana hilangnya "cinta" dalam nurani seorang yang
mengaku dirinya muslim/muslimah? Bila melihat saudaranya yang kesusahan bukan
malah dibantu dengan cara baik-baik tetapi malah semakin dipermalukan atau
ditinggalkan dalam keadaan hina akan ketidaktahuannya. Kemana hilangnya sebuah
"cinta" yang sesungguhnya mampu menjadi penyejuk api kebencian yang
bercokol di dada kita hanya karena kita yang merasa "bersih".
Kita harus bisa membedakan, mana orang tersesat
yang membutuhkan petunjuk jalan dengan orang yang sengaja senang dan menikmati
kalau dirinya berada di tempat yang sesat. Apalagi bagi kita muslim/muslimah
yang dengan seizin Allah diberi kemudahan dan lebih dahulu menemukan hidayah.
Tugas kita bukanlah untuk membiarkan mereka tersesat terlebih mengolok-olok,
tetapi menjadi sebuah penunjuk agar mereka bisa keluar dari kesesatan.
Dan dalam menunjukkan jalan yang benar, bukan pula
dengan cara membentak-bentak atau cara kasar lainnya. Tetapi ada banyak cara
lain yang lebih baik yang bisa kita gunakan. Meskipun kita sedang kesal atau
lelah. Namun, tidak ada kata lelah bagi kita yang benar-benar beriman dan
memiliki tekad bagi menegakkan jalan kebenaran.
Bukankah dengan kebencian, akan menumbuhkan
kebencian-kebencian lain? Dan bukankah sedikit taburan cinta mampu menyebarkan
aroma yang mewangi hingga ke penjuru-penjuru yang ada? Lantas, mengapa masih
kita pilih cara yang buruk bila masih ada jalan baik yang masih bisa kita
susuri?
Mari, kembali kita jalin erat ukhuwah yang sudah
sepantasnya kita jalin. Tanpa merasa diri paling ta'at. Karena siapa yang ta'at
dan siapa yang tidak bukanlah manusia yang menilanya, Tetapi Allah Azza Wa
jalla. Karena hanya Dia yang bisa Membaca yang terbersit dalam hati setiap
hamba-Nya.
Sudah sepantasnya, Islam penuh cinta. Bahkan Islam
dibawa oleh Nabi Kita Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam pun dengan penuh
cinta, bukan dengan kebencian.

Komentar
Posting Komentar