Cerita 44 : Mereka Bilang Aku Muda
Aku dan buku. Seperti
sepasang kekasih yang pernah pisah. Pagi itu, seperti biasa, demi
mengisi waktu luang kusempatkan menyelesaikan membaca kumpulan cerpen yang
kupinjam beberapa waktu lalu dari perpustakaan. Seorang guru
yang baru saja memasuki ruang majelis guru tempatku yang berdiam diri sejak
tadi memerhatikanku sejenak, sampai akhirnya menegurku juga.
"Hobi baca juga?” Lembut suara itu menyapa.
Seorang Bu Guru memandangi sambil mengurai senyumannya
seperti biasa.
“Hehe, iya…” Akuku
perlahan.
Obrolan pun
bergulir... Hingga tak tahu entah ke mana alur tujuannya.
Sampai pada akhirnya
perbincangan terhenti di satu pertanyaan yang membuatku lumayan terhenyak.
"Ngomong-ngomong
sudah punya calon?" Pertanyaan yang lumayan membuatku melek sambil
mengucek-ngucek mata akibat kelelahan meniti kata demi kata dalam buku kumpulan
cerpen yang sudah entah sampai halaman ke berapa.
"Belum."
"Emm... Pacar?
Atau "batIr dolan" gitu?" Kali ini kalimat pertanyaannya kudengar agak
ragu-ragu. Aku menggeleng cepat.
"Walaa
taqrobuzzina, Bu. Takut!" Kataku sambil bergidik.
Mata Bu Guru itu semacam melahirkan
binar ketulusan yang aku sendiri merasa tenang kala menangkapnya. Sekejap
hatiku tertunduk sembari menyimpul senyum tipis. Teramat tipis. Dan seperti
yang kuduga, Ibu itu pasti akan menghujaniku dengan cerita-ceritanya di kala
muda sewaktu beliau masih berusia seusiaku sekarang yang isinya syarat dengan
nasihat-nasihat. Ada beberapa yang membuatku merasa tersentil. Adapula yang
membuatku kembali bersemangat untuk terus melahirkan karya selagi muda.
"Orang muda banyak cobaannya lho,
apalagi orang muda yang taat."
"Syaitan itu malas mendekati orang-orang yang tidak teguh
pendirian. Justru orang-orang yang kokoh pendiriannyalah yang dijadikan sasaran
alot si syaitan." Aku seolah terpaku mendengar tausiyah si ibu, lupa pada lembaran yang sejak tadi
kupelototi.
Do' mengalir dari bibirnya. Ucap Ibu itu lagi yang kusepakati sebagai
do'a dan harapan. Tak lama,
kami pun berlalu bersama kegiatan masing- masing. Mendadak hati jadi sendu. Teringat pada
sebuah do'a yang pernah terlantunkan. Ya, Allah... Kami ini hanya makhluk
lemah, senantiasa lindungilah kami para pemuda harapan penegak agama-Mu…
Aamiin…
Komentar
Posting Komentar