Cerita
45 : Tas Hati
Hati adalah anggota tubuh manusia yang
paling rentan. Bahkan dalam sebuah hadis pun dikatakan: "Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal
daging. apabila baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah
tubuh manusia. ingatlah, segumpal daging itu adalah qalbu/
hati."
(HR. Bukhari)
Bila baik hati, maka baik jugalah
jiwa-raga kita. Begitu pun sebaliknya, bila suasana hati sedang buruk, maka
akan terasa buruklah hari-hari kita. Dan bila saja hati kita ibaratkan
seperti tas, mungkin kita akan lebih selektif menyimpan apa-apa saja yang perlu
kita simpan sehingga hanya pengaruh baik yang hanya akan kita dapatkan. Jadi, kita tidak perlu merasa tersinggung dengan apa-apa yang
sebenarnya tak pantas kita tersinggungi. Entah karena tuduhan, olokan atau
semacamnya. Bila kita termasuk orang yang selektif / rajin pilah-pilih, mungkin
hati kita tidak akan terasa susah kecuali atas dosa-dosa.
Terkecuali untuk
sebuah nasihat kebaikan.
"Tersinggung" atas nasihat kebaikan itu merupakan suatu kewajaran dan
pertanda bahwa hati kita masih sangat "peka" sehingga masih mampu
mendeteksi mana kebenaran yang sesungguhnya dan mana yang salah yang harus
diperbaiki.
Jadi, bersyukurlah
bagi kita yang masih memiliki "rasa" kala disinggung mengenai
kebaikan. Tandanya, memang ada yang tidak beres dan perlu dibereskan dalam
ruang diri juga hati kita. Dan mudah-mudahan hati kita akan terus menyimpan
hal-hal baik yang kita perlukan bakal bekal masa-masa ke depan. Dan tinggalkan yang
buruk-buruk atau yang tak pantas kita simpan dalam "tas hati"
kita. Serta jangan lupa pula untuk selalu berdo'a meminta
kekukuhan hati.
Namun, bagi kita yang
masih ragu mengenai pengertian hati yang menjadi bahasan kita kali ini, mungkin melalui tulisan Ibnu Qayim
berikut bisa membantu kita untuk meraba-raba, adakah masih "hati"
dalam tubuh kita? Ataukah malah sudah menghilang? Lalu. bagaimana caranya untuk
memilikinya seperti semula?
Berikut petuah Ibnu
Qayim dalam tulisannya;
“Carilah hatimu di tiga tempat ini ; di saat engkau mendengarkan Al
Qur’an, di saat engkau berada di majlis dzikir (majlis ilmu) dan di saat engkau
menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika engkau tidak temukan hatimu di sana,
maka mintalah kepada Allah agar Memberimu hati karena sesungguhnya engkau sudah
tak punya hati lagi” (Al Fawaid 1/148)
Semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar