Cerita 69 : Sebuah Catatan Untuk
yang Telah dan Akan Menyandang Gelar Ibu/ Ayah
**Catatan ini saya buat
teruntuk para orang tua, dan yang paling utama untuk mengingatkan diri sendiri
bila suatu saat ditakdirkan untuk menjadi orang tua.
Menurut saya, menjadi orang tua memang bukanlah suatu hal mudah. Menjadi orang tua adalah beban berat yang memang harus tersandang di pundak mereka-mereka yang telah dipercayai oleh Allah untuk menjadi orang tua. Baik ibu ataupun ayah. Kedua-duanya memiliki peran penting, yang tidak bisa saling lepas tangan.
Menjadi orang tua sangatlah berat. Mengapa demikian? Iya, saat setiap mereka yang telah dipercaya oleh Allah menjadi orang tua, tidak hanya dituntut kebijaksanaannya. Melainkan harus senantiasa siaga atas apa yang seharusnya dipimpin dan dijaga.
Menjadi orang tua tidak hanya bisa sambil lalu saja. Bila yang diinginkan adalah generasi-generasi yang baik lagi sholeh/sholehah dan berguna.
Tentu tanggung jawab yang amat besar.
Mungkin kita akan berbahagia saat ada yang memanggil kita dengan sebutan Ayah, ibu, umi, abi,...
Namun, kebahagiaan menjadi seorang Ayah, ibu sesungguhnya tidak sekadar itu.
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat kita bisa menjaga anak kita dengan baik, dari segi lahirnya maupun batinnya.
Saat kita bisa membekali anak dengan ilmu agama, bahkan sebelum ia mengukir jejak pertamanya di sekolah.
Saat kita bisa mengajarkan akhlak yang baik.
Saat kita mampu mendidik dan mengajarkannya al-Qur'an dengan baik.
Mungkin kita akan bangga, saat anak kita mendapat juara kelas. Kita bangga anak kita populer di kalangannya. Kita bangga anak kita lulus kuliah tepat waktu. Sukses, mapan di usia muda.
Akan tetapi, bagaimana dengan kesholeh/sholehahnya?
Bagaimana dengan cara bergaulnya dengan lawan jenis dan sebagainya?
Hmmm, mungkin sebagian orang tua akan menganggap remeh hal ini, "Ah... Namanya juga anak-anak remaja, masih labil-labilnya...."
Namun, coba kita pikir-pikir lagi... Benarkah begitu cara orang tua bertanggung jawab atas anaknya?
Ingat, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang ia pimpin.
Bukan, kita bukan sedang berbicara tentang pimpinan/atasan/bos di dunia. Tetapi tentang Atasan di akhirat, yang telah memberi mandat mulia kepada kita.
Bagaimana kita harus bertanggungjawab pada Atasan yang satu itu? Bila menjaga anugerah terindah yang telah terberi saja kita terkesan ogah-ogahan?
Ya, Bunda.... Atau juga Ayah....
Menurut saya, menjadi orang tua memang bukanlah suatu hal mudah. Menjadi orang tua adalah beban berat yang memang harus tersandang di pundak mereka-mereka yang telah dipercayai oleh Allah untuk menjadi orang tua. Baik ibu ataupun ayah. Kedua-duanya memiliki peran penting, yang tidak bisa saling lepas tangan.
Menjadi orang tua sangatlah berat. Mengapa demikian? Iya, saat setiap mereka yang telah dipercaya oleh Allah menjadi orang tua, tidak hanya dituntut kebijaksanaannya. Melainkan harus senantiasa siaga atas apa yang seharusnya dipimpin dan dijaga.
Menjadi orang tua tidak hanya bisa sambil lalu saja. Bila yang diinginkan adalah generasi-generasi yang baik lagi sholeh/sholehah dan berguna.
Tentu tanggung jawab yang amat besar.
Mungkin kita akan berbahagia saat ada yang memanggil kita dengan sebutan Ayah, ibu, umi, abi,...
Namun, kebahagiaan menjadi seorang Ayah, ibu sesungguhnya tidak sekadar itu.
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat kita bisa menjaga anak kita dengan baik, dari segi lahirnya maupun batinnya.
Saat kita bisa membekali anak dengan ilmu agama, bahkan sebelum ia mengukir jejak pertamanya di sekolah.
Saat kita bisa mengajarkan akhlak yang baik.
Saat kita mampu mendidik dan mengajarkannya al-Qur'an dengan baik.
Mungkin kita akan bangga, saat anak kita mendapat juara kelas. Kita bangga anak kita populer di kalangannya. Kita bangga anak kita lulus kuliah tepat waktu. Sukses, mapan di usia muda.
Akan tetapi, bagaimana dengan kesholeh/sholehahnya?
Bagaimana dengan cara bergaulnya dengan lawan jenis dan sebagainya?
Hmmm, mungkin sebagian orang tua akan menganggap remeh hal ini, "Ah... Namanya juga anak-anak remaja, masih labil-labilnya...."
Namun, coba kita pikir-pikir lagi... Benarkah begitu cara orang tua bertanggung jawab atas anaknya?
Ingat, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang ia pimpin.
Bukan, kita bukan sedang berbicara tentang pimpinan/atasan/bos di dunia. Tetapi tentang Atasan di akhirat, yang telah memberi mandat mulia kepada kita.
Bagaimana kita harus bertanggungjawab pada Atasan yang satu itu? Bila menjaga anugerah terindah yang telah terberi saja kita terkesan ogah-ogahan?
Ya, Bunda.... Atau juga Ayah....
Bukankah terhadap setiap yang
kita miliki pasti ada pertanggungjawabannya suatu hari?
Ingat-ingat kembali saat kita berharap untuk dikaruniai permata hati, bagaimana saat airmata kita deras jatuh meminta agar segera dihadiahi momongan, sebagai pelengkap kebahagiaan.
Bagaimana bisa sekarang kita remehkan mereka setelah mereka hadir?
Ingat-ingat kembali, saat hati kita berjanji ingin menjadi orang tua terbaik buat mereka, meski mungkin mereka tidak mendengar, tetapi Allah Maha Mendengar.
Ingat-ingat kembali...
Jadi, pastikan, apakah para bunda-ayah sekalian sudah memberikan yang terbaik sesuai dengan yang dijanjikan?
Kita tentu akan bangga, saat melihat anak gadis kita dengan cantik, terbungkus jilbab kemana saja, dengan tas yang senantiasa berisi mukena dan al-Qur'an, yang tutur katanya lembut, tiada pernah kasar. Senantiasa menjaga hati dan dirinya di mana saja ia berada. Yang lebih senang mengukir prestasi akhirat.
Kita tentu saja bangga, saat melihat anak lelaki kita yang dengan bijaksana menolak ajakan keburukan, yang "nyanyiannya" ialah asma Allah, yang kemana pun kakinya melangkah ia selalu menjaga hati juga dirinya, menghalangi dirinya dari memandang atau menyentuh sesuatu yang haram baginya.
Merekalah generasi-generasi yang sesungguhnya membanggakan.
Bukan generasi yang mudah terhanyut oleh arus zaman.
Ingat-ingat kembali saat kita berharap untuk dikaruniai permata hati, bagaimana saat airmata kita deras jatuh meminta agar segera dihadiahi momongan, sebagai pelengkap kebahagiaan.
Bagaimana bisa sekarang kita remehkan mereka setelah mereka hadir?
Ingat-ingat kembali, saat hati kita berjanji ingin menjadi orang tua terbaik buat mereka, meski mungkin mereka tidak mendengar, tetapi Allah Maha Mendengar.
Ingat-ingat kembali...
Jadi, pastikan, apakah para bunda-ayah sekalian sudah memberikan yang terbaik sesuai dengan yang dijanjikan?
Kita tentu akan bangga, saat melihat anak gadis kita dengan cantik, terbungkus jilbab kemana saja, dengan tas yang senantiasa berisi mukena dan al-Qur'an, yang tutur katanya lembut, tiada pernah kasar. Senantiasa menjaga hati dan dirinya di mana saja ia berada. Yang lebih senang mengukir prestasi akhirat.
Kita tentu saja bangga, saat melihat anak lelaki kita yang dengan bijaksana menolak ajakan keburukan, yang "nyanyiannya" ialah asma Allah, yang kemana pun kakinya melangkah ia selalu menjaga hati juga dirinya, menghalangi dirinya dari memandang atau menyentuh sesuatu yang haram baginya.
Merekalah generasi-generasi yang sesungguhnya membanggakan.
Bukan generasi yang mudah terhanyut oleh arus zaman.
Atau generasi yang dengan mudah
ditemukan berpasang-pasangan yang belum halal di jalan-jalan atau di tempat
remang,
(Naudzubillah...)
Jadi, untukmu para orangtua, jadilah para orang tua yang senantiasa bijaksana, yang senantiasa mengisi hidup dengan ilmu kebaikan, agar kita mampu senantiasa diberi petunjuk untuk menunjukkan atau bahkan memberikan keteladanan yang baik buat para generasi kita.
Jangan biarkan mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia sendirian.
Jadilah pembimbing, dan senantiasa menjadi sahabat serta do'akan atau katakan yang terbaik.
Jadi, untukmu para orangtua, jadilah para orang tua yang senantiasa bijaksana, yang senantiasa mengisi hidup dengan ilmu kebaikan, agar kita mampu senantiasa diberi petunjuk untuk menunjukkan atau bahkan memberikan keteladanan yang baik buat para generasi kita.
Jangan biarkan mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia sendirian.
Jadilah pembimbing, dan senantiasa menjadi sahabat serta do'akan atau katakan yang terbaik.
Sesungguhnya, do'a orang tua
(terutama ibu) adalah do'a yang paling mudah diijabah Allah.
Dan bagi yang akan dan segera menjadi orang tua, teruslah belajar, terutama para saudariku (wanita)
Dan bagi yang akan dan segera menjadi orang tua, teruslah belajar, terutama para saudariku (wanita)
Sebab sebuah syair pernah
berkata,
"Al-umm madrasatun
idza a'dadtaha a'dadta sya`ban thayyibu al-'araq"
Yang artinya, Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika menyiapkannya berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.
Sungguh mulia, Bukan?
Setiap kita insya Allah adalah calon orang tua.
Yang artinya, Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika menyiapkannya berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.
Sungguh mulia, Bukan?
Setiap kita insya Allah adalah calon orang tua.
Maka jadilah & persiapkan
diri sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dinaungi cahaya hidayah oleh Allah untuk mendidik para generasi selanjutnya dengan baik.
Aamiin.
Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dinaungi cahaya hidayah oleh Allah untuk mendidik para generasi selanjutnya dengan baik.
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar