Cerita 61 : My First Drama (3)
Walaupun sebelumnya sempat mau meminta tolong kepada teman yang juga hobi nulis untuk menyelesaikan naskahnya, namun oleh karena teman saya itu mungkin lagi banyak kerjaan, jadinya, janji untuk membuatkan naskah pun jadi molor. Sampai akhirnya, mau tak mau saya sendiri yang harus turun tangan, mencuri-curi kesempatan di sela-sela menyiapkan materi ajar dan kegiatan lainnya.
Dan syukurnya, naskah pun telah selesai. Selanjutnya, tinggal mencari tokoh-tokoh pemeran yang sesuai dengan karakter tokoh masing-masing dalam cerita "Negeri 5 Menara". Rada sulit memang. Apalagi, sewaktu menulis naskah, saya bukan membayangkan siswa/i yang akan tampil memerankan melainkan adalah tokoh-tokoh yang ada di dalam film. Dan saya membuat mereka seolah-olah hidup dalam dunia baru yakni drama.
Dan... Pencarian tokoh pun selesai. Akhirnya, dengan mengingat dan menimbang jumlah siswa yang lebih sedikit dibanding dengan siswi, saya pun memutuskan untuk mengikutsertakan seluruh siswa dalam drama tersebut.
Percobaan Pertama.
"Namanya juga pertama, kaku-kaku itu biasa, lantaran belum pernah tampil saja...."
"Tapi..."
"Man Jadda Wajadaa!" Upp'ss perkataan teman saya hari itu bukan saya menutup pembicaraan tapi juga turut membungkamkan bibir saya yang sempat skeptis bisa menampilkan grup drama dengan mantap.
Di samping anak-anak yang masih kurang lancar dalam melakukan dialog dengan teman mainnya. Dan ini merupakan first experience mereka dalam mendrama dan sebelumnya juga belum pernah tampil drama di depan publik meskipun hanya drama singkat.
Yaaaaah, namanya juga anak kelas 7 MTs yang masih susah-susahnya diatur. Alhasil, saya jadi stress sendiri menanganinya.
Tapi justru semangat yang diberikan oleh rekan saya ini memberi kekuatan tersendiri pada saya yang tengah diderita nyaris patah hati dengan drama yang saya rancang sendiri.
Apalagi, begitu naskah siap di-print beliau yang lebih dulu menawarkan diri untuk membacanya. Serta langsung dapat apresiasi manis. Lagi-lagi, alhamdulillah... Gak sia-sia berarti saya disebut-sebut sebagai penulis, hehehe meskipun belum sehebat Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa atau juga Asma Nadia, hehehe *jedug! *kejedot pintu
To be Continue, Insya Allah...
Apalagi, begitu naskah siap di-print beliau yang lebih dulu menawarkan diri untuk membacanya. Serta langsung dapat apresiasi manis. Lagi-lagi, alhamdulillah... Gak sia-sia berarti saya disebut-sebut sebagai penulis, hehehe meskipun belum sehebat Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa atau juga Asma Nadia, hehehe *jedug! *kejedot pintu
To be Continue, Insya Allah...
Komentar
Posting Komentar