Cerita 58 : Curhat Dikit, Boleh?
Mungkin, sampai hari ini ada seseorang yang sedang marah pada saya. Marah besar. Karena (menurutnya) saya sudah melakukan sebuah kesalahan yang amat fatal bagi keterlanjutan kehidupan sebuah kehormatan bernama "Karir"
Ya, maklum, saya yang masih sangat awam dengan kehidupan semacam ini, mungkin tidak terpikirkan oleh saya kalau dampaknya bakal sebesar ini. Yaa, tapi apa boleh buat? Kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur, dan saya enggan menyalahkan yang lain, kecuali diri saya sendiri.
Bagi saya, hidup itu adalah hidup. Sesuai dengan apa yang pernah saya pelajari dari bangku TK sampai dengan bangku perguruan tinggi, dan yang pasti bangku kehidupan. Tak pernah saya temukan pelajaran semacam ini. Meski nurani menentang. Tapi tetap saja di mata seseorang saya bersalah.
Sebagai orang yang bersalah, saya siap dihukum. Seberat atau seringan apapun. Bahkan saya insya Allah sudah benar-benar mempersiapkan diri kalau-kalau memang ada jalan terpahit yang harus diterima. Insya Allah, saya siap! Karena bagi saya, dunia bukan segala-galanya. Akhirat lebih penting.
Bukannya sombong. Tapi itulah yang namanya prinsip. Meski sepenuhnya saya bukanlah ahli ibadah ataupun ahli dakwah, tapi menjadi pribadi yang lebih baik adalah tujuan.
Saya tidak pernah berharap sesuatu yang buruk menimpa saya ataupun orang lain. Saya justru berharap semuanya akan baik-baik saja. Punya hubungan yang harmonis.
Tapi, apa artinya sebuah harap tanpa ridho-Nya?
Saya malah amat yakin, kalau sesuatu yang terjadi ini pasti sudahmenjadi perhitungan matang Sang Maha Adil, yang tak pantas untuk saya sesali di kemudian hari.
Allah tahu saya tegar. Allah tahu saya kuat.
Allah tahu kalau saya bisa melewati ini.
Insya Allah.
Komentar
Posting Komentar