Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Cerita 61 : My First Drama (3)

Cerita 61 : My First Drama (3)  Walaupun sebelumnya sempat mau meminta tolong kepada teman yang juga hobi nulis untuk menyelesaikan naskahnya, namun oleh karena teman saya itu mungkin lagi banyak kerjaan, jadinya, janji untuk membuatkan naskah pun jadi molor. Sampai akhirnya, mau tak mau saya sendiri yang harus turun tangan, mencuri-curi kesempatan di sela-sela menyiapkan materi ajar dan kegiatan lainnya. Dan syukurnya, naskah pun telah selesai. Selanjutnya, tinggal mencari tokoh-tokoh pemeran yang sesuai dengan karakter tokoh masing-masing dalam cerita "Negeri 5 Menara". Rada sulit memang. Apalagi, sewaktu menulis naskah, saya bukan membayangkan siswa/i yang akan tampil memerankan melainkan adalah tokoh-tokoh yang ada di dalam film. Dan saya membuat mereka seolah-olah hidup dalam dunia baru yakni drama. Dan... Pencarian tokoh pun selesai. Akhirnya, dengan mengingat dan menimbang jumlah siswa yang lebih sedikit dibanding dengan siswi, saya pun memutuskan untuk me...

Cerita 60 : My First Drama (2)

Cerita 60 : My First Drama (2) Ini dia behind the scene -nya "Generasi Rabbani" / "Man Jadda Wajadaa" ala MTs Darussalam.  Sebelumnya, saya memang yang mendapatkan tawaran untuk menyajikan drama khusus buat persembahan di acara perpisahan siswa/i kelas IX, berbagai judul pun telah banyak terlontar, dari mulai cerita rakyat sampai dengan drama kontemporer Laskar Pelangi. Tetapi karena saya adalah penikmat fiksi Islami, di benak saya saat itu langsung saja memunculkan satu ide yang menurut saya cocok untuk drama anak-anak sekolah.  Man Jadda Wajadaa! Gegara saya yang tidak bosan-bosannya menonton film yang diadopsi dari Novel Best Seller-nya Mas A. Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara dan tertarik dengan masing-masing karakter tokoh-tokohnya, terutama tokoh Baso Solahuddin yang menurut saya adalah tokoh remaja ideal yang seharusnya ada di jiwa-jiwa remaja masa kini, karena ia yang begitu meyahabati al-Qur'an serta selalu membawa efek yang positif. Ok...

Cerita 59 : My First Drama (1)

Cerita 59 : My First Drama (1) Subhanallah... Subhanallah... Subhanallah... Tiada pujian paling indah tuk diucapkan selain nama-Nya. Serta tak lupa puji syukur kepada Allah yang telah memberi segala kemudahan serta kelancaran dari awal sampai akhir kegiatan yang kami selenggarakan pada Rabu, 28 Mei kemarin. Yap, kemarin itu merupakan momen perdana saya merealisasikan naskah drama racikan tangan saya sendiri (hehehe) dalam sebuah even. Sebagai perempuan yang sering disebut-sebut sebagai penulis. Mungkin menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk merealisasikan salah satu bentuk tulisan ke dalam sebuah lakonan atau drama di mana yang memainkannya adalah siswa-siswi didikan saya sendiri. Meskipun awalnya terasa berat dan nyaris menyerah. Tetapi berkat dukungan dan semangat salah satu rekan sekerja saya yang sangat saya cinta karena Allah, akhirnya... Ide dari naskah tersebut jadi terealisasi juga. Man Jadda Wajada... Tema yang saya angkat dalam drama perdana kali ini. T...

Cerita 58 : Curhat Dikit, Boleh?

Cerita 58 : Curhat Dikit, Boleh? Mungkin, sampai hari ini ada seseorang yang sedang marah pada saya. Marah besar. Karena (menurutnya) saya sudah melakukan sebuah kesalahan yang amat fatal bagi keterlanjutan kehidupan sebuah kehormatan bernama "Karir" Ya, maklum, saya yang masih sangat awam dengan kehidupan semacam ini, mungkin tidak terpikirkan oleh saya kalau dampaknya bakal sebesar ini. Yaa, tapi apa boleh buat? Kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur, dan saya enggan menyalahkan yang lain, kecuali diri saya sendiri. Bagi saya, hidup itu adalah hidup. Sesuai dengan apa yang pernah saya pelajari dari bangku TK sampai dengan bangku perguruan tinggi, dan yang pasti bangku kehidupan. Tak pernah saya temukan pelajaran semacam ini. Meski nurani menentang. Tapi tetap saja di mata seseorang saya bersalah. Sebagai orang yang bersalah, saya siap dihukum. Seberat atau seringan apapun. Bahkan saya insya Allah sudah benar-benar mempersiapkan diri kalau-kalau memang ada j...

Cerita 57 : Tidak Mudah Menyalahkan yang Lain

Cerita 57 : Tidak Mudah Menyalahkan yang Lain Satu hal yang mungkin sering kita lakukan pada diri kita sendiri ketika kita sedang terdesak atau kesal pada sesuatu atau seseorang. Menyalahkan yang lain, dan tidak ingin di-cam sebagai pesalah. Right!  Sepertinya, tidak ada  yang bisa dengan berlapang dada menerima dirinya sebagai pesalah dibandingkan dengan menyalahkan yang lain. Karena bagaimana pun, menyalahkan yang lain lebih mudah ketimbang mengakui diri sendiri yang memang bersalah. Namun, mengakui kesalahan akan membuatmu jauh lebih tenang ketimbang menyalahkan yang lain, meskipun untuk sementara kita "menang" saat menyalahkan, tapi lihatlah sesaat setelah itu, kamu akan menemukan dirimu bukan lagi dirimu, tapi diri yang kamu sendiripun malas untuk melihat rautmu sendiri. Tiap manusia tidak pernah luput dari salah. Dan Allah Maha Pengampun, meskipun tidak semua manusia memiliki jiwa besar sebagai pemaaf. Tetapi, ingatlah! Hidup bukanlah mencari kedudukan ...

Cerita 55 : Life Like A Puzzle

Cerita 55 : Life Like A Puzzle Hidup layaknya sebuah puzzle. Yang antara satu bagian dengan bagian yang lain saling terpecah-pecah. Tinggal kepada upaya kita hendak menyatukannya hingga mampu membentuk atau menggambarkan sesuatu. Hidup ini penuh dengan teka-teki. Seperti labirin dengan dasar yang penuh dengan ornamen mahligai yang bening berkilauan. Bila tidak hati-hati, kita akan tergelincir. Dan di satu sisi, kita harus menemukan jalan tempat tujuan kita yang sesungguhnya.  

Cerita 54 : No Ambisius!

Cerita 54 : No Ambisius! Mungkin, saya bukan termasuk golongan orang-orang yang terlampau menuruti ambisi. Setidaknya untuk saat ini. Bagi saya, apapun yang saya lakukan sepanjang hari, biarlah akan menjadi bunga kebaikan bagi hari-hari saya ke depan. Saya tidak ingin menjadi penuai badai, gara-gara tangan saya yang iseng menabur angin. Saya tidak ingin terlalu mengejar ambisi, bila ternyata itu berefek buruk untuk saya sendiri, apalagi sampai berefek buruk bagi orang lain. Saya tidak ingin melakukan apapun itu, bila hanya akan membuahkan kesia-siaan.  Terbayangkan bahwa hidup ini yang begitu singkat. Dan belum tentu kebaikan saya di waktu yang cukup singkat ini menghapus sebagian saja keburukan yang saya buat, entah karena sengaja ataupun tidak. Saya hanya ingin berambisi, bila itu tentang kebaikan sesama, dan berdampak kebaikan yang meluas.

Cerita 53 : Feel Free to Write Something After

Cerita 53: Feel Free to Write Something After Yes, i feel free after write something. Di manapun. Menulis menjadi senjata ampuh untukku meluahkan apa yang kurasakan dalam rangkaian huruf-huruf.  Bukan cuma di blog. Di buku harian, atau di catatan apapun. Menulis jadi ajang koreksi diri. Pengumpul sepaian semangat yang berhamburan.  Menulis adalah do'a dalam bentuk tulisan, yang bisa kita baca kembali, kapanpun kita mau.  Dengan menulis, maka aku pun mengenal (siapa) aku sendiri.

Cerita 52 : Arti Hidupmu, Muslimah...

Cerita 52 : Arti Hidupmu. Muslimah.... Hidup ini indah, terlalu indah. Apatah lagi untuk makhluk Allah seperti kita yang begitu mudah mencintai keindahan. Tak jarang kita justru terpedaya oleh keindahan yang kita kagum-kagumi itu. Karena diri yang terlupa, karena hati yang alpa, pada keagungan Sang Pencipta Semesta, yakni Allah Subhana Wata'ala... Namun, sebagai muslimah, hatinya harus kerap terpaut oleh Rabb-nya. Napas yang harus senantiasa berzikir kepada-Nya. Serta lafaz yang tak sedikitpun luput untuk bersyukur ke atas segala karunia yang diberi kepadanya. Sebagai muslimah, jalannya bukanlah semata-mata untuk mencari pujian. Melainkan bakti yang harus senantiasa tergenggam di hati. Dan ridho Allah, adalah satu-satunya mutiara yang dicari. Dan bila masih terpikir olehmu untuk menunjuk-tunjukkan kecantikan lahiriah yang telah Allah limpahkan kepada masing-masing kita, maka mungkin itu karena kurangnya ilmu yang kita miliki. Lisan kita yang mengatakan kita men...

Cerita 51 : Menangislah...

Cerita 51 : Menangislah... Dalam hidup, banyak yang tidak terduga. Ada banyak sekali. Perihal yang sebenarnya tidak kita sukai, tiba-tiba berlaku. Perihal yang kita harap-harap, tak kunjung terjadi. Tetapi sebagai makhluk, kita diwajibkan untuk selalu berprasangka baik terhadap apapun yang telah terjadi. Artinya, kita yang harus mawas diri, mengoreksi diri, mengapa hal itu justru terjadi? Ada berbagai penyebab yang bisa menjawab. Mungkin karena ikhtiar/upaya kita yang belum cukup keras. Atau mungkin do'a kita yang kurang. Atau dosa-dosa kita yang menjadi penghambat akibat kurang beristighfar dan bertaubat. Ada bermacam jawaban yang bisa kita temukan bila kita peduli untuk mengoreksi diri. Begitu juga untuk suatu hal yang terjadi pada hari ini. Sesuatu yang kita nilai amat menyesakkan dada. Sesuatu hal yang tidak pernah kita sangka-sangka. Sesuatu hal yang tidak pernah kita alami meski hanya dalam bentuk mimpi. Namun, satu hal yang mesti kita akui, bahwa semua sudah te...

Cerita 50 : We Are Still Alive

Cerita 50 : We Are Still Alive Di saat udara masih bisa kita hirup. Di saat jantung masih bisa berdetak. Saat itu kita akan dikatakan hidup. Seperti halnya, makhluk Allah yang lain, manusia erat dengan kaitannya dengan kehidupan. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari yang namanya kehidupan, kecuali kematian. Di saat cobaan melanda. Tantangan di depan mata. Kesedihan juga kebahagiaan berselingan mendera. Itulah yang dinamakan warna-warni kehidupan. Menandakan bila hidup masih lagi lekat di kehidupan kita. Aneka ragamnya masih bisa kita nikmati. Baik itu berupa kesedihan- kebahagiaan. Namun sadarilah, bahwa itu semua merupakan karunia Tuhan. Tidak ada yang menjalani hidupnya dengan jalan yang mulus-mulus saja. Pasti ada terjal. Pasti ada liku. Dan yang membedakan kita dengan mereka yang hidup tampak tenang-tenang saja, karena semakin mereka dicoba semakin mereka mendekat pada Allah. Semakin mereka tahu ujian apa yang akan mereka hadapi, mereka mempersiapkan diri. Buk...

Cerita 49 : Alhamdulillah... Ada Cheria Travel! (Cheria Travel, Biro Penyelenggara Umroh plus Turki, Dubai, Aqso, Eropa yang Amanah, Profesional Berpusat di Jakarta Selatan)

Cerita 49 : Alhamdulillah... Ada Cheria Travel!  (Cheria Travel, Biro Penyelenggara Umroh plus Turki, Dubai, Aqso, Eropa yang Amanah, Profesional Berpusat di Jakarta Selatan) Berkunjung ke Baittulah merupakan impian setiap umat Islam yang bukan hanya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Dan ada beraneka cara bagi menawar kerinduan hati muslim/muslimah yang sudah lama mendamba-damba untuk bertatap muka dengan rumah Allah satu itu, yakni salah satunya dengan berhaji. Dan bagi mereka yang tidak berkesempatan berhaji, karena berbagai kendala, sepertinya tidak perlu kecewa lagi. Karena kini telah hadir Cheria Travel yang siap melayani perjalanan umroh Anda dengan jaminan amanah, profesional serta penawaran harga terbaik. Cheria Travel merupakan biro penyelenggara haji dan umroh plus berwisata ke negara-negara Islami, seperti Turki, Dubai, Aqso dan Eropa. Selain itu juga, Cheria Travel turut menerima pendaftaran program untuk perorangan, ke...