Cerita 79 : Galau?
Siapa bilang saya tidak
pernah galau? Bahkan hampir setiap manusia pernah merasakan galau. Tak
terkecuali saya. Saya juga pernah atau mungkin selalu merasakan galau sebagaimana
manusia lain.
Galau ketika tidak bisa
mencapai sesuatu. Galau ketika memikirkan sesuatu yang tidak tentu. Galau
ketika ada tindakan saya yang menyalahi aturan, terutama aturan Allah. Galau
ketika secara tak sengaja ada sikap, lisan atau perbuatan saya yang menyakiti
orang lain. Dan semacamnya...
Lalu masih ada yang bilang
saya tidak pernah galau? :)
Tentunya sebuah kesalahan
besar bila ada yang beranggapan saya tidak pernah galau bila menilai dari
tampilan luar.
Saya masih tetap manusia
biasa yang bisa merasakan bimbang kapan pun. Yang bisa takut karena dihantui
prasangka-prasangka. Bisa menangis saat merasa beban berat mulai terasa di hati
dan di pundak serasa tidak sanggup saya topang lagi.
Namun saya yakin itu semua
ada tempatnya, dimana perasaan itu harus saya adukan dan saya tumpahkan. Meski mungkin
ekspresi saya tidak terbiasa untuk menyiratkan.
Saya lebih senang memandang
segalanya penuh dengan gaya positif dan optimis ketimbang harus menakuti-nakuti
diri dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu akan terjadi.
Ingat, kita masih punya
Allah. Ada Allah yang senantiasa mau mendengar keluh-kesah setiap hamba-Nya.
Dan Allah sebaik-baik penjawab akan segala keresahan, kegelisahan, kegalauan
yang kita rasakan. Mengadu kepada-Nya jauh akan membuat kita lebih tenang.
Insya Allah.
Meski mungkin dengan tangis
kita tak lagi mampu kita bendung. Meski tak ada seorang pun yang boleh
mendengar dan menyaksikan kesedihan kita. Selalu percaya dan ingat, ada Allah
yang selalu setia menjadi pendengar dan pembasuh duka-lara kita.
Jadi, bukan berarti orang
yang kelihatannya tidak pernah galau tidak pernah galau.
Saya tetap merasakan apa itu
galau. Namun berupaya sebisa mungkin untuk tidak larut ke dalamnya. Karena saya
yang tidak ingin terus berjalan di tempat cuma gara-gara rasa yang merugikan
diri saya sendiri apalagi sampai merugikan orang lain. Saya lebih senang
orang-orang di sekeliling saya tersenyum, daripada ikut-ikutan manyun gara-gara
hati saya yang sedang dilanda trouble galau. Huh! Ada banyak hal yang bisa dilakukan
daripada galau-galauan yang bikin rugi lahir batin.
Hanya saja yang perlu kita
tahu, bahwa meluahkan galau dengan cara yang menyalahi aturan Allah tidak akan
menyelesaikan masalah. Dengan cara menunjuk-nunjukkan atau mendramatisir dan
segala macam. Meskipun menurut kita mungkin itu cara yang terbaik. Namun itu salah.
Ingatlah, Allah tidak mungkin
menguji kita di luar kemampuan. Cukup Allah. Dan hanya Allah.
Jadi, masih mau galau?
Hmmm, daripada terus-menerus
galau, mending melakukan hal positif yang menunjang skill untuk masa depan. Seperti
contoh, nabung untuk masa depan, untuk beli rumah, memberangkatkan orang tua ke
tanah suci atau mungkin... Nabung untuk biaya masa depan anak-anak nanti, kalau
sudah menikah :D (plis, jangan senyum-senyum dulu. Ini positif, kan?) Dan masih
banyak hal-hal positif lain yang bisa dilakukan. Mulai saja dari hal-hal kecil
dahulu.
Dan... Kalau pun hati belum juga
bisa tenang, coba dengan membaca ayat-ayat Qur'an minimal 1 sampai 3 ayat.
Sahabat, ingat, ya.
Allah sebaik-baik penjaga
hati, juga Maha membolak-balikkan hati manusia. Minta pada Allah untuk
senantiasa membuat hati kita bahagia. Jauh dari rasa galau. Allahu Akbar.
Komentar
Posting Komentar