Langsung ke konten utama

Cerita 81 : Cinta?



Cerita 81 : Cinta?

Ehem, biarkan saya berbicara tentang cinta kali ini. Dan saya harap tidak ada yang protes, atau heran, kenapa pilih tema ini hari ini untuk dibagikan.

Bukan, bukan karena saya yang sedang jatuh cinta, tetap cinta saya cuma ada pada Allah. Dan biarkan Dia yang benar-benar memilihkan hati mana yang cocok untuk dipasangkan dengan hati yang saya punya. Karena Dia-lah sebaik-baiknya Pemilih. Karena sudah sejak dulu, hampir seluruh dari hati ini saya serahkan pada-Nya, agar tidak ada yang bisa menyentuhnya, selain yang benar-benar halal menyentuh.  
 
Mungkin bagi sebagian yang mengenal saya, mereka tahu sangat, bahwa saya bukanlah tipe perempuan yang suka ribet dengan hal satu ini. Pacar? Aduh... Bagi saya tidak ada pacar selain suami saya kelak. 

Ibarat kata, tidak perlu nabrak tembok dulu baru tahu itu tembok. Cukup dengan melihat pengalaman sekitar. Dan lebih dari sebagian hasil pengamatan menyatakan, kalau pacaran (before nikah) itu super ribet. Cuma nafsu semata. Nafsu ingin memiliki dan menikmati tanpa tanggung jawab berarti.  

Artinya, mencari pelarian, seolah lari dari Maha Rahman-Nya Allah. Sedangkan Maha Pengasih-Nya Allah tidak perlu diragukan. Masih diizinkan bernapas, sehat, bisa berjalan, melihat dengan jelas, melakukan hal terbaik saja itu sudah cukup menjadi bukti bahwa Allah begitu Maha Pengasih. 

Tidak ada yang bisa menandingi Ar-rahman, Arrahim-Nya Allah, apalagi perempuan/laki-laki yang jelas-jelas bukan muhrim kita, dan dengan menjalani hubungan yang jelas-jelas haram dan dibenci Allah. Jelas, tidak mungkin mampu menandingi kasih-sayang-Nya Allah. Jauh sekali.

Sangat berbeda dengan "ribet"-nya mencintai suami, mengurus suami, anak-anak, dll. Jelas sekali, "ribet"-nya bernilai pahala, lelahnya juga bukan sia-sisa, Allah hitung segalanya menjadi amal kebaikan. Seru, kan?

Jadi, jangan mau kalah dengan nafsu. Ingatlah, hidup ini cuma sekali dan sementara, sekali berlalu tidak akan pernah kembali lagi, jadi berhentilah mewarnai lembar hidupmu dengan kerugian yang menghapus nilai ibadah. 

Meski memang terkadang rasanya berat. Apalagi bagi mereka yang taat, terasa sekali godaan demi godaan silih berganti. Tetapi, itulah yang dinamakan tantangan. Mau menyerah atau melawan?

Dan tidak ada perjuangan yang tidak berat.
Dan sebaik-baik tempat menyandarkan beban, hanyalah pada Allah.
Serahkan hanya pada-Nya.

Semoga Allah jaga hati, pelihara penglihatan, dan diri kita dari sesuatu yang mudharat dan Allah benci.

Komentar