Cerita 77 : Bolehkah Jatuh Cinta?
Ada yang bilang, kalau cinta
itu menyakitkan.
Adapula yang bilang, kalau
cinta itu adalah keindahan yang tiada tara.
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak..." (QS. 'Ali Imran ayat 14)
Tidak salah memang bila saat
ini banyak hati yang merindukan hadirnya rasa yang begitu luar biasa itu.
Rasa yang begitu mempesona
dan dahsyatnya.
Rasa yang akan dirasakan
setiap insan-Nya yang dikaruniai perasaan.
Rasa yang sifat awalnya adalah
suci.
Namun, bagaimana cara kita
mengolah "rasa" yang suci itu agar tetap suci?
Bolehkah kita mengungkapnya
dengan lisan, rayu-rayuan atau bahkan sentuhan dan segala macam, sebagai bukti
besarnya rasa cinta yang kita miliki?
Oleh sebab kita adalah
makhluk berperasaan,
Maka, cepat atau lambat kita
pasti akan merasakan rasa indahnya jatuh cinta.
Tetapi, mengenai boleh atau
tidaknya kita jatuh cinta, kapan kita boleh merasakan cinta atau kapan kita
boleh jatuh cinta, semisal ada di antara kita yang sedang memendam rasa
terhadap lawan jenisnya. Entah karena rupanya, karena kepintarannya,
tahta/kedudukan, kealimannya, itu gimana?
Ya, Saudariku,
Perlu kita ingat, bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu senantiasa ada maksud di baliknya.
Sama halnya dengan rasa
cinta.
Tidak salah Allah menjadikan
rasa itu ada dalam hati setiap orang.
Namun, sebagai manusia
beriman, hendaklah kita semua tahu, bahwa segala sesuatu mesti ada waktunya.
Sebagai pengibaratannya, saat
kita sedang berpuasa, segala sesuatu yang hukumnya halal untuk disantap tetap
halal untuk disantap. Hanya saja kita harus menunggu dahulu, kapan tepatnya
kita boleh menyantap berbagai macam makanan yang halal tersebut, tentunya kita
harus menunggu waktu berbuka dahulu.
Ya, seperti itu juga, sebuah
rasa bernama cinta.
Bukan berarti kita tidak
dibolehkan untuk jatuh cinta.
Hanya saja, kita harus
menunggu, menyimpan dulu hasrat yang menggebu, sebelum sampai waktunya.
Karena sesuatu yang tidak
disalurkan pada tempatnya, biasanya akan menimbulkan dampak buruk bagi diri
kita atau juga orang lain.
Contoh saja, bila kita
berpuasa, sementara jarum jam masih menunjukkan pukul 12.00 WIB, namun kita
sudah tidak sabar dan menyantap makanan yang tersedia, sementara belum tiba
waktunya, apa yang akan terjadi dengan puasa kita? Maka, ibadah puasa yang
telah kita jalani selama setengah hari menjadi batal, dan tidak bernilai
sebagai ibadah puasa lagi.
Lalu, kapan kita boleh jatuh
cinta?
Butuh kesabaran yang tebal
untuk menanti. Iya, menanti setelah ijab-qabul telah diucapkan.
Setelah itu, silakan jatuh
cintalah sepuasnya.
Karena cinta yang tumbuh di antara
kedua insan yang dibalut ridho-Nya dalam ikatan suci pernikahan, bernilai
ibadah.
Sedangkan, bagi yang belum
menikah atau belum siap untuk menikah, apalagi yang masih remaja muda belia
Mungkin jatuh cinta seutuhnya
pada Allah, pada keluarga adalah wadah yang paling tepat, karena di sana rasa
cinta akan terkendalikan juga akan terhitung menjadi ibadah, berwujud prestasi atau
kebaikan lainnya,
Bukankah berprestasi karena
Allah atau membangun finansial yang mapan lebih indah daripada menjalani
sesuatu yang belum waktunya untuk kita rasakan?
Sungguh, cinta Allah kepada
hamba-Nya sangatlah indah, bagi kita yang mau membuka hati kita
selapang-lapangnya.
Tidak ada yang indah selain
ketentuan-Nya.
Dan bukankah sebagai manusia
yang beriman, kita tahu, bahwa mengimani Allah, mengimani Kitab Al-Qur'an
merupakan pilar kehidupan dalam diri setiap muslim/muslimah?
Jatuh cinta setelah menikah,
adalah salah satu bentuk taat pada salah satu ayat-Nya yang tertulis dalam
al-Qur'an.
Karena jatuh cinta sebelum
menikah atau menumbuhkan rasa cinta dengan cara yang dilarang Allah, seperti
dengan cara mendekati zina, sama saja dengan menambah tumpukan dosa kita yang sudah
menggunung.
Karena cinta itu fitrah.
Cinta itu anugerah dari Allah kepada setiap insan-Nya yang berakal-budi. Jangan
kotori apa yang Allah anugerah dengan nafsu yang tiada mampu kita kendalikan
dengan iman. Karena murka Allah bisa saja akan segera kita jelang.
Subhanallah... Adakah yang lebih kita takutkan melebihi murka Allah?
Sungguh, mencintai Allah itu
indah.
Selamat mencintai Allah.
Komentar
Posting Komentar