Langsung ke konten utama

Cerita 2: “How to be A Master?”



Cerita 2:
How to be a Master?”

Jadi, sudah seminggu berturut-turut saya didaulat terus oleh sepupu saya untuk merangkai lirik lagu. Untuk apa tepatnya, entahlah saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, saya diiming-imingi imbalan yang… yah, lumayanlah sekadar untuk membuat handphone saya kembali bordering. Lagipun tema yang diminta tidak rumit-rumit amat. Dan feel-nya juga lumayan dapet karena kebetulan jalan ceritanya mirip-mirip dengan yang baru-baru ini saya alami, heuheu…
Kembali pada topic. Jadi, bukan tanpa sebab kenapa sepupu saya mempercayai saya untuk merangkai beberapa lirik lagu untuknya. Seperti yang tertulis pada postingan perdana sebelumnya, saya memiliki kegemaran merangkai kata yang luar biasa. Rasanya ada saja sesuatu yang menarik terlintas di kepala. Dan saya menyebutnya, sebagai anugerah.
Meskipun begitu, tetap saja bait-bait yang saya tulis yang saya coba kirimkan ke media koran tidak pernah niat tembus. Karena memang saya lebih cocok menulis lirik lagu ketimbang puisi. Lantas, penolakan demi penolakan itu tidak membuat saya berhenti sampai di sini. Saya malah mencari tahu, menjalin pertemanan dengan mereka yang sudah saya anggap “Master” karena karya-karya beliau yang sering nongkrong di berbagai Koran.
Dan setelah banyak mengobrol, ternyata usut punya usut, perjuangan mereka tidaklah semudah yang saya bayangkan. Mereka yang juga punya hobi merangkai kata bukan sekadar merangkai punya tips dan trik masing-masing untuk menembus berbagai media. Mulai dari mengirim karya di jam-jam “rawan” sampai punya target untuk menghujani e-mail redaksi beberapa minggu sekali. Dan itu tidaklah mudah (Juga tidak sulit).
Mereka bukan saja bermodalkan tekad, tetapi karya yang benar-benar sudah matang berkat sering terasah. Secara tidak langsung, mereka terus belajar dan belajar dari setiap karya yang mereka hasilkan. Tidak salah jika saya “mengangkat” mereka sebagai Master. Walaupun saya belum sempat belajar secara langsung dari mereka. Tetapi setidaknya dari beberapa pengalaman yang mereka ceritakan saya jadi banyak belajar, kalau untuk menembus media itu bukan saja butuh tekad tetapi karya terbaik buah dari kesabaran mengasah.
Dengan mempertimbangkan kondisi saya sekarang, sangat mustahil ‘kan bila saya berharap dipanggil “Master of puisi” oleh seseorang? (Yaiyalah…. :D) Secara, karya puisi mana mampu menegaskan saya dipanggil “Master” oleh seseorang? Malah lucu kalau saya sampai memaksakan orang-orang buat manggil saya “Master” sementara saya enggak ada apa-apanya. Banyak hal yang harus saya lakukan kalau saya ingin dipanggil “Master” sebagaimana mereka yang sudah saya gelari “Master” walaupun sebenarnya mereka enggan digelari begitu. Karena yang mereka tahu hanya berkarya, selanjutnya terserah kepada yang menilai.
Makanya, saya suka greget kalau lihat artis-artis di tivi yang rela bikin “sensasi” cuma untuk meraih gelar dan mendapat nama di mata masyarakat dengan “cara keji.” Padahal yang perlu diketahui, cara keji hanya untuk melahirkan kekejian yang lain pula. Hanya cara mulia yang bakal melahirkan kemuliaan hingga akhir. Lain lagi kalau patokan mereka semata-mata karena materi. Ya, sudahlah… cukup. Enggak perlu lagi dibahas.
Nah, itu, intinya kita harus punya semangat juang yang tinggi dan berpikiran positif, kreatif yang baik. Walaupun hasilnya masih mini. Tetapi kalau terus-menerus ditekuni, insya Allah akan maksi di kemudian hari. Lebih pentingan mana, sedikit tapi teratur? Atau masiv tapi dadakan? Ayok, pilihan kembali ada pada Anda.
Dan masih bicara soal “Master”, dengan melihat prestasi saya yang belum bisa dibilang “Master” apa mungkin saya bisa dipanggil “Master”? Duh, sebaiknya buang dulu jauh-jauh, banyakin belajar dulu, berkarya dulu, kalau sudah layak nanti, tanpa diminta pun orang bakal menjuluki kita Master. Bukan karena mau kita tapi karena memang kita yang pantas mendapat julukan itu.
Tetapi… tahukah, malam kemarin saya kembali tersentak karena menerima SMS yang lumayan menyentil saya, apa itu? Ehem begini bunyinya:
“When? Ayolah… Masa’ Master segitu sj gk bs?”
Rupanya itu SMS dari sepupu saya yang menagih lirik. Karena saya belum sempat bikin dan beliau minta untuk cepat diselesaikan.
Tetapi ada yang menarik dari sebaris kalimat huruf digital yang saya baca waktu itu. Terdapat satu kata yang baru saja kita bahas. “Master” Eee, saya Master apa?
Jedug! Saya berhenti ternganga. Saya baru teringat kalau kabar saya gemar menulis itu sudah lama tersiar di lingkungan kerabat. Jadi, mereka menyimpulkan dari sejumlah prestasi menulis yang sudah terkumpul yang saya nilai masih belum ada apa-apanya itu berarti saya sudah “Master” dalam artian mampu di bidangnya.
Menyadari hal itu, saya jadi keki sendiri. Duh, masih segini, nih, prestasi saya, dan tulisan saya pun belum apa-apa, belum sehebat tulisan Bunda Helvy Tiana Rosa, Asmarani Rosalba (AsmaNadia) apalagi Andrea Hirata. Perjalanan masih jauh untuk betul-betul dijuluki “Master” seperti mereka.
Mengingat pesan singkat tadi, saya jadi teringat satu ayat yang sebetulnya sering kita baca, hanya saja sedikit dari kita yang mau mengimaninya.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” (QS. Yaasiin ayat 82)
Akhirnya, saya terbangun dari cebis angan yang terlanjur saya buang jauh-jauh.
Saya jadi tambah yakin menceritakan apa saja kepada-Nya (dalam do’a) jadi semakin ingin getol mendekatkan diri dengan-Nya, . Dan saya mengerti, dalam setiap cita yang tersimpan ada kasih sayang Allah yang mengiringi. Subhanallah, walhamdulillah, walaailaaha ilallah wallahuakbar.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENAKLUK BONO

CCERPEN PENAKLUK BONO  Karya Astuti Ari Palupi  2013             CERPEN BERIKUT PERNAH DIIKUTKAN DALAM LOMBA MENULIS TULIS NUSANTARA YANG DIADAKAN KEMENKRAF TAHUN 2013 DAN TERMASUK KE DALAM 10 NOMINASI KARYA TERBAIK DAN MEWAKILI DAERAH RIAU.       E-mail     : Palupize@gmail.com no. Hp     : 0823-9198-7076

Langkah Awal Trading Forex

Langkah Awal Trading Forex Selamat kepada Anda para calon Trader sukses! Untuk Anda yang sudah sangat tertarik dengan Trading mari kita mulai sekarang juga tanpa menunggu lama-lama. Bagaimana memulai Trading? Bagaimana agar sukses dalam Trading? Bagaimana agar bisa menghasilkan uang melalui Trading? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang mengundang antusias para Trader baru untuk segera ikut bergabung dalam dunia Trading. Ya, siapa yang tidak tertarik dengan cara kerja Trading yang super mudah ini. Yang bisa Anda lakukan di rumah atau di mana saja bahkan bisa Anda lakukan dengan benda yang sehari-hari Anda pegang, Handphone. Baiklah, ayo kita mulai. Langkah awal tentunya hadirkan dalam diri Anda niat serta keinginan yang kuat untuk belajar. Apa saja yang perlu dipelajari dalam Trading Forex? 1. Memahami Forex Trading Langkah awal yang perlu anda ketahui adalah memahami " Apa itu Trading Forex? " Karena kebanyakan para Tader Enggan untuk Menjawab sec...

Cerita 100 : Kilas Forex

SEKILAS TENTANG FOREX Forex  alias FX alias foreign exchange , dalam Bahasa Indonesia disebut dengan valuta asing atau mata uang asing. Sedangkan Trading Forex  adalah sebuah kegiatan jual beli mata uang negara satu dengan negara yang lain, ringkasnya perdagangan valas. Jika dianalogikan, Trading Forex ini memang hampir mirip dengan money changer ataupun saham. Seperti kegiatan perdagangan pada umumnya, keuntungan dalam ber-trading Forex didapat dari selisih harga beli dan harga jual. Contoh kasusnya seperti ini: Beberapa bulan yang lalu Sule membeli US Dolar sebanyak $100 dengan kurs pembelian atau konversi rupiahnya senilai Rp. 9.000. Dan pada minggu ini, ternyata nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS sehingga kursnya menjadi Rp. 10.000 per satu Dolar AS. Jadi, jika Sule menjual Dolarnya pada minggu ini, dia akan memperoleh keuntungan senilai (10.000 - 9.000) x $100 = Rp. 100.000. Mirip sekali dengan money changer , ya? Iya. Tetapi tetap ada bedanya ...